BREAKINGNEWS.CO.ID- Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus menegaskan, Polri harus tetap objektif dan profesional dalam memproses hukum kasus dugaan ujaran kebencian Habib Bahar bin Smith. 
 
Menurut Petrus, publik ingin saksikan profesionalisme Polri dalam kasus-kasus besar termasuk kasus Habib Bahar bin Smith. Sebesar apapun tekanan masa yang diberikan oleh pengikut dan pendukung Habib Bahar bin Smith atas alasan mengawal proses hukum.
 
"Tetapi Bareskrim Mabes Polri dan jajarannya tidak boleh terpengaruh dengan tekanan atau intervensi dalam bentuk apapun dari siapapun termasuk dari pendukung dan  pengikut Habib bin Smith," ujar Petrus kepada wartawan, Kamis (6/12/2018). 
 
Lanjut Petrus, meskipun Habib Bahar bin Smith diperiksa sebagai saksi, namun jika Penyidik sudah memiliki alat bukti sekurang-kurangnya dua alat bukti dan sudah terpenuhi dan unsur-unsur pidananya, khususnya sangkaan melakukan tindak pidana ujaran kebencian, maka Penyidik harus segera memberinya status tersangka dan melakukan penahanan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab Penyidik yang dijamin di dalam KUHAP.
 
Bareskrim kata Petrus tidak boleh melahirkan tradisi atau budaya hukum baru dalam penegakan hukum berupa bersikap lunak atau mengalah terhadap tekanan masa, lantas mengorbankan tuntutan rasa keadilan publik dalam kasus-kasus tertentu termasuk kasus Ujaran Kebencian Habib Bahar bin Smith. 
 
"Jika kondisi yang diciptakan oleh sekelompok orang memberikan tekanan untuk mengawal proses hukum atas nama Habib Bahar bin Smith, lantas Polri kembali bersikap lunak maka wibawa hukum, Institusi Polri dan negara hukum kita akan tercoreng untuk kesekian kalinya (karena menyangkut kehormatan dan nama baik) Jokowi sebagai Presiden dan wibawa negara dalam menegakan hukum," tegasnya. 
 
Petrus menambahkan, melihat pasal dugaan pelanggaran pidana yang dilaporkan oleh Masyarakat terhadap Habib Bahar bin Smith yaitu tindak pidana Ujaran Kebencian yang ancaman pidananya di atas 5 (lima) tahun penjara, maka cukup beralasan bagi Bareskrim pada pemeriksaan hari ini selain menetapkan statusnya sebagai tersangka, juga melakukan upaya paksa terhadap Habib Bahar bin Smith berupa penangkapan selama 1 x 24 jam dan diikuti dengan panahanan untuk tahap pertama selama 20 ( dua puluh) hari.
 
Habib Bahar bin Ali bin Smith memenuhi panggilan pemeriksaan yang dilayangkan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Dittipidum Bareskrim) pada hari ini, Kamis (6/12). 
 
Ia tiba dengan pakaian berwarna putih dan kacamata hitam di kantor sementara Bareskrim, Gambir, Jakarta Pusat pada pukul 11.28 WIB. Pendiri Majelis Pembela Rasulullah itu akan diperiksa sebagai terlapor atas ceramahnya yang diduga mengandung unsur tindak pidana kejahatan terhadap penguasa dan ujaran kebencian.
 
Dalam pemeriksaan hari ini, Habib Bahar dikawal sejumlah masa yang mengenakan seragam serbaputih serta topi baret khas laskar Front Pembela Islam (FPI).