BREAKINGNEWS.CO.ID - Penyidik Polda Metro Jaya melimpahkan kembali berkas kasus dugaan penyebaran pesan bohong atau hoax dengan tersangka Ratna Sarumpaet ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta hari ini, Kamis (10/1/2019). Pelimpahan berkas ini dilakukan setelah mengalami beberapa kali perbaikan dua bulan. 

"Dimana berkas ini adalah sempat dikembalikan ke Polda Metro Jaya, sekarang sudah diperbaiki oleh penyidik Polda Metro Jaya dan akan diserahkan kembali ke Kejati dan diterima oleh Jaksa Penuntut Umum," ucap Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi I Gede Nyeneng di Markas Polda Metro Jaya, Kamis (10/1/2019). 

Dengan demikian, pihaknya tinggal menunggu pihak Kejati DKI Jakarta menyatakan bahwa berkas kasus sudah lengkap dan siap untuk dimajukan ke persidangan. Polda Metro Jaya optimis berkas yang diminta untuk dilengkapi ini sudah rampung karena pihaknya telah mengikuti petunjuk jaksa.

"Kita menunggu P21-nya (dinyatakan lengkap oleh jaksa)," ujarnya.

Jika sudah lengkap, lanjutnya, tersangka yang merupakan aktivis itu akan segera dilimpahkan ke Kejati DKI Jakarta. Begitupun dengan barang bukti dalam kasus ini sebagai tanda bahwa kasus telah rampung dan siap dieksekusi di meja hijau.

Sebelumnya diberitakan, pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mengembalikan berkas kasus hoax Ratna ke Polda Metro Jaya pada Kamis 22 November 2018 karena masih ada kekurangan syarat formil dan materiil pada berkas tersebut.

"Jaksa Peneliti Kejati DKI Jakarta mengembalikan berkas atas nama tersangka RS," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI Jakarta, Nirwan Nawawi.

Selanjutnya, guna melengkapinya penyidik menambah keterangan saksi, yakni Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Nanik S. Deyang dan akademisi Rocky Gerung.
Dalam kasus ini Ratna Sarumpaet ditahan polisi, setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus hoaks, Jumat 5 Oktober 2018. Aktivis perempuan itu sempat menggegerkan publik, karena mengaku diamuk sejumlah orang.

Pesan bohongnya itu, lantas dibongkar polisi. Lebam di wajah Ratna bukan akibat dipukul, melainkan akibat operasi sedot lemak di RSK Bina Estetika.

Ratna dijerat Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 46 tentang Peraturan Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dari penerapan pasal berlapis itu, Ratna terancam hukuman 10 tahun penjara.