BREAKINGNEWS.CO.ID - Terkait kasus penganiayaan dan penyekapan terhadap Ninoy Karundeng, pegiat media sosial yang juga relawan Jokowi, Polda Metro Jaya telah menetapkan 15 tersangka. Sebanyak 13 tersangka telah ditahan dan dua tersangka lainnya ditangguhkan penahanannya karena alasan kesehatan.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Dedy Murti Haryadi mengatakan ada satu tersangka lagi yang masih buron dan tengah diburu pihaknya.

Yakni SA, warga Kalibata Timur yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi. SA adalah suami tersangka INS, seorang dokter yang kini sudah ditahan polisi. INS dibekuk di Cibinong, Jawa Barat, 10 Oktober 2019 lalu.

"Jadi ada satu DPO lagi dalam kasus ini yakni SA, suami dari tersangka INS. Tim kami masih di lapangan memburu SA ini. Semoga dalam waktu dekat ini kita berhasil bekuk SA," kata Dedy dalam konpers di Polda Metro Jaya, Selasa (22/10/2019).

Peran SA ini, kata Dedy, turut mengkomando penganiayaan dan intimidasi terhadap Ninoy.

Dedy menuturkan jumlah total tersangka dalam kasus ini saat ini adalah 15 orang.

Tiga diantaranya adalah perempuan. Dua perempuan berperan menyebar video intimidasi terhadap Ninoy dan konten penghasutan, ke sejumlah grup WhatsApp mereka.

Sementara seorang perempuan lainnya yakni INS adalah seorang dokter di tim medis, yang turut mengintimidasi korban.

"Dari jumlah tersangka 15 orang ini, sebanyak 13 tersangka kami tahan. Sementara 2 orang lainnya ditangguhkan penahanannya karena alasan kesehatan," kata Dedy di Polda Metro Jaya, Selasa (21/10/2019).

Para tersangka, kata Dedy diberkas dalam empat laporan polisi berbeda. "Kami masih melengkapi berkas perkara untuk dikirim ke kejaksaan," kata Dedy.

Tersangka INS yang berprofesi sebagai dokter katanya dibekuk paling terakhir diantara 15 tersangka ini. Ia dibekuk di Cibinong, Bogor, pada 10 Oktober lalu.

"Kami pastikan ini tidak rekayasa. Semua berdasar fakta dan alat bukti yang didapat dari olah TKP. Metode mereka melakukan propaganda seperti ini dalam WA grup. Masih ada upaya pengembangan hingga saat ini," kata Dedy.

Ia menjelaskan penganiayaan, pengeroyokan, penyekapan dan tindak kekerasan terhadap Ninoy terjadi di sebuah masjid di Pejompongan pada 30 September 2019 lalu.

"Dimana pada hari dan jam yang sama, sebelumnya sedang terjadi unras di sekitar sana dan berakhir anarkis," kata dia.

Sehingga saat itu dilakukan pembubaran massa yang didahului imbauan membubarkan diri.

"Beberapa menolak membubarkan diri, hingga kepolisian melakukan langkah-langkah untuk membubarkan peserta unras. Saat itu saudara Ninoy ada di lokasi dan keberadaannya diketahui beberapa orang atau oknum. Kemudian terjadi pengeroyokan dan penganiayaan bersama-sama terhadi korban, termasuk penyekapan dan ada upaya mengambil alih barang-barang milik korban diantaranya laptop dan ponsel," papar Dedy.

Bahkan kata Dedy, para tersangka sempat berencana hendak membunuh Ninoy dengan dikampak. "Serta rencananya korban setelah dibunuh, mayatnya akan dibawa dengan ambulans dan dibuang di lokasi kerusuhan. Sehingga nantinya ia dianggap korban kezaliman polisi," kata Dedy.

Namun akhirnya rencana itu kata Dedy tak terjadi karena ambulans yang mereka tunggu tak kunjung datang.

Karena perbuatannya kata Dedy para tersangka dijerat pasal berlapis yakni Pasal 55 KUHP, Pasal 66 KUHP junto Pasal 170 KUHP, Pasal 365 KUHP, Pasal 333 KUHP, Pasal 480 KUHP, Pasal 335 KUHP dan UU ITE. Dimana ancamannya hingga 12 tahun penjara.
"Dan kami masih mendalami dan mengembangkan kasus ini," kata Dedy.