BREAKINGNEWS.CO.ID - Diyakini terlibat dalam serangkaian aksi teror di beberapa daerah di Indonesia, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan akhirnya memutuskan untuk membubarkan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Menanggapi hal itu, politisi PKS Fahri Hamzah menilai wajar jika hal itu dilakukan. Apalagi hal itu diputuskan melalui proses peradilan. "Saya kira kalau keputusan pengadilan, ya berarti kan sudah melalui proses peradilan, ya wajar saja. Cuma pengadilan harus mengumumkan sebab-sebabnya itu," katanya saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/7/2018).

JAD sendiri dimata Fahri yakni orang-orang yang memiliki paham seperti itu menganggap jika ini merupakan zaman perang. Menurutnya, itu adalah pemahaman yang salah. Adapun saat ini yang ada adalah perang ide, perang narasi dan perang kata-kata. Untuk itu, dirinya pun mengimbau kepada para jamaah tersebut untuk menulis dalam buku sebagai media dalam menyampaikan fikiran-fikirannya. "Kalau fikiran kita benar, pasti banyak yang akan beli. Tapi kalau fikiran kita tidak benar ya kita harus instropeksi dong, iya kan. Jangan mengambil jalan kekerasan, nah yang suka keras-keras ini lah yg kemudian terprvokasi dan di olah oleh orang lain menjadi elemen yang merusak," tuturnya.

Selain itu, dirinya pun emngimbau kepada seluruh pihak untuk menggandrungi diskusi. "Gandrungilah diskusi, gandrungilah percakapan, gandrungilah dialog dan debat, tulis buku, bedah buku dan diskusi, begitu cara kita berjuang sekarang. Bukankah Nabi Muhammad SAW juga berjuang dengan acara itu pada awalnya, dan Alquran turun dengan Iqra, jadi perintah pertama Quran itu bukan perang tapi membaca," sebutnya. "Karena itu perang kita sekarang adalah perang ilmu pengetahuan. Itu teman-teman yang dituduh seperti itu kembalilah ke jalan ilmu pengetahuan," sambung Fahri yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI itu.

Namun dirinya menilai jika peran pemerintah dalam hal ini untuk tidak lepas tangan. Fahri pun mencontohkan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menurutnya, HTI sendiri merupakan kelompok yang suka diskusi. HTI juga menurutnya lebih suka berdebat dan tidak pernah melakukan latihan perang. "Memang dia membawa ide-idr yang oleh sebagian orang dianggap final seperti ide Khilafah. Tapi seberapa pun, se ekstrim apapun ajak diskusi, jangan melakukan tindakan ektrim yang mendorong orang melakukan eltram. Tugas negara itu menciptakan situasi aman bagi perdebatan sehingga muncul kesadaran bersama ditengah masyarakat, jalan kita adalah jalan damai, jalan ilmu," tegasnya.