BREAKINGNEWS.CO.ID - Sejak genderang kampanye dimulai pada 23 September 2018 baik pasangan capres 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih jarang membahas isu kebijakan luar negeri dan internasional. Isu-isu tersebut kerap dikesampingkan dalam diskursus perdebatan antar timses.

Kepala Departemen Hubungan Luar Negeri Centre for Strategic and International Studi (CSIS) Shafiah Muhibat mengatakan, fenomena itu disebabkan karena masyarakat Indonesia sebagai pemilih pasti akan menimbang isu yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, seperti isu kesejahteraan, kemiskinan, lapangan pekerjaan, dan pendidikan.

"Kalau politik luar negeri apa urusannya? Cenderung seperti itu. Kebanyakan memang seperti itu. Jika tak ada kaitannya dengan masyarakat secara langsung, masyarakat gak akan peduli. Pastinya yang dibahas adalah urusan ekonomi mikro, kehidupan sehari-hari warga," katanya kepada wartawan, Rabu (21/11/2018)

Shafiah menyarankan agar para timses bisa kembali menaikkan isu kebijakan luar negeri dan internasional dalam perdebatan Pilpres 2019 agar dapat mendidik masyarakat. Apalagi, dengan adanya media sosial dan memungkinkan masyarakat mudah mengakses pemberitaan. "Kembali ke capres-cawapres mau nggak menaikkan isu ini? Inisiasi mereka juga. Peran media juga penting. Saya rasa media juga bisa mengedukasi publik," katanya.

Masih Kampanye Receh

Sebulan awal kampanye berjalan, kedua timses dan capres cawapres masih berkutat pada pernyataan-pernyataan nyeleneh dan menimbulkan kontroversi. Pertama-tama yang menjadi perhatian khusus adalah murkanya Jokowi ketika pidatonya di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia mengingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati memasuki tahun-tahun politik seperti saat ini. Jokowi mengatakan banyak 'politikus sontoloyo'. Tak berhenti di situ, Jokowi kembali membuat retorika ofensif saat mengunjungi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11). Kali ini Jokowi memakai istilah politik genderuwo sebagai gaya politik yang hanya menakut-nakuti masyarakat.Lagi-lagi pidato Jokowi memicu perdebatan, khususnya dari kubu oposisi.

Sementara itu, dari Prabowo, dia sempat dilaporkan oleh sejumlah masyarakat Boyolali. Ia dianggap melecehkan warga boyolali. Awalnya, Prabowo membahas peningkatan kapasitas produksi karena menurut data yang mereka terima, terjadi penurunan kesejahteraan di desa. Adapun bunyi pidatonya sebagai berikut: "...Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini."

Tak hanya menyeret calon presiden saja, namun statement yang menjadi kontroversi juga menyeret calon wakil presiden nomor 02, Ma'ruf Amin. Ma'ruf Amin menyindir orang-orang yang kerap mengkritik kinerja Presiden Jokowi. Dia mengibaratkan hanya orang 'budek' dan 'buta' saja mengkritik perkembangan pembangunan yang dikerjakan Jokowi.

Hal itu diungkapkan Ma'ruf saat memberikan sambutan dalam acara peresmian Rumah dan deklarasi Relawan yang mengatasnamakan Barisan Nusantara (Barnus) di kawasan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).