JAKARTA -  Pijat menimbulkan rileksasi dan kesegaran tubuh, yang secara psikis kemudian berpengaruh baik pada gairah atau dorongan seksual. Tapi tidak semua orang yang melakukan pijat akan meningkat gairah seksualnya.

Dorongan seksual atau yang secara populer disebut gairah seksual, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hormon seks khususnya testosteron, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikis, dan pengalaman seksual sebelumnya. Kalau keempat faktor tersebut mendukung, maka dorongan seksual tetap baik. Sebaliknya kalau faktor tersebut tidak mendukung, maka dorongan seksual menurun bahkan lenyap sama sekali.

Seseorang yang mengalami kekurangan hormon testosteron atau mengalami gangguan dalam bereaksi terhadap hormon itu, dorongan seksualnya menurun. Dorongan seksual semakin kuat kalau ada rangsangan seksual dari luar, baik berupa rangsangan fisik maupun rangsangan psikis. Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan, misalnya mengalami gangguan fungsi hati, mungkin dorongan seksualnya menurun karena metabolisme hormonnya terganggu. Seseorang yang mengalami anemia berat, mungkin saja dorongan seksualnya sangat menurun. Demikian juga dengan beberapa penyakit yang lain.

Kalau terjadi hambatan psikis, misalnya mengalami kejenuhan dengan suasana yang monoton, dorongan seksual sangat mungkin tertekan. Bau badan yang mengganggu juga merupakan contoh hambatan psikis yang menekan dorongan seksual, dan masih banyak contoh lainnya. Pengalaman seksual sebelumnya juga berpengaruh kuat terhadap dorongan seksual. Bila pengalaman seksual sebelumnya selalu memuaskan, sangat mungkin dorongan seksual selalu terasa kuat. Sebaliknya, bila pengalaman seksualnya tidak menyenangkan apalagi menyakitkan, maka dorongan seksual tertekan atau bahkan lenyap sama sekali.

Banyak contoh, terutama di kalangan perempuan, dorongan seksual lenyap karena hubungan seksual yang dilakukan selalu tidak memuaskan. Pengalaman seksual yang tidak menyenangkan ini pada akhirnya dapat menimbulkan kekecewaan yang dapat melenyapkan dorongan seksual.

Tindakan pijat seperti itu pasti tidak akan berpengaruh terhadap dorongan seksual, kalau ada faktor lain yang menghambat dorongan seksual. Sebagai contoh seseorang yang hormon testosteronnya menurun atau tidak berfungsi dengan baik. Demikian juga kalau terdapat penyakit tertentu, misalnya anemia yang berat. Pasti pijat seperti itu tidak akan memberikan hasil untuk meningkatkan dorongan seksual. Seseorang yang merasa jenuh dengan kehidupan seksual bersama pasangan, dorongan seksualnya mungkin menurun atau bahkan lenyap sama sekali. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja pijat tidak akan menyelesaikan masalahnya.

Mungkin saja ketika mengalami pijatan, dorongan seksual muncul akibat sentuhan yang dialami. Tetapi bukan berarti dorongan seksual terhadap pasangannya akan kembali normal. Seseorang dengan pengalaman seksual buruk sehingga dorongan seksualnya menjadi tertekan, tetap saja akan seperti itu walaupun dipijat seringkali. Jadi tidak tepat kalau disimpulkan bahwa pijat dapat meningkatkan dorongan seksual.

Yang benar, untuk mempertahankan atau meningkatkan dorongan seksual, maka keempat faktor yang mempengaruhinya harus dijaga dengan baik. Tetapi pijat tetap mempunyai manfaat karena dapat menimbulkan rileksasi otot dan juga secara psikis. Tidak benar pula pijat dapat mengakibatkan otot menjadi lembek.
Pijat sebenarnya sama dengan olahraga, termasuk olahraga yang menggunakan beban. Pada olahraga juga terjadi rileksasi otot, di samping kontraksi. Secara psikis, olahraga juga memberikan pengaruh rileksasi.