BREAKINGNEWS.CO.ID - Piala Dunia 2018 yang hampir sempurna pelaksanaanya tercoreng oleh segelintir orang yang menerobos masuk ke dalam lapangan. Mereka adalah band punk asal Rusia bernama Pussy Riot. Pada laga final antara Prancis vs Kroasia di Stadion Luzhniki, Moskow, Minggu (15/7/2018), Empat orang berpakaian polisi masuk ke lapangan dan membuat wasit harus menghentikan sejenak jalannya pertandingan sampai pihak keamanan menyergap mereka.

Empat orang tersebut terdiri dari dua orang pria dan dua orang perempuan. Mereka masuk ke lapangan tepatnya pada menit ke-52. Pussy Riot merupakan sebuah band Rusia bergenre punk yang memfokuskan diri pada isu-isu feminis. Band ini kerap melakukan penampilan-penampilan yang dianggap provokatif, misalnya seks terbuka di museum biologi Moskow. Lirik-lirik pada lagu mereka pun bertemakan feminisme, penyeruan hak-hak LGBT, dan protes terhadap Vladimir Putin yang mereka anggap sebagai diktator.

Pihak keamanan menyergap anggota Pussy Riot yang memasuki lapangan
(Foto: Dok. twitter)

Secara musikalitas, band ini tak menuntut aliran tertentu. Seorang anggota band dengan nama panggung Garadzha mengatakan kepada media Moskovkie Novosti, bahwa grup ini tidak membatasi syarat kala menerima anggota baru. "Anda tidak harus menyanyi dengan baik. Ini punk. Anda hanya perlu teriak yang banyak," katanya, dikutip dari VOA.

Walau tak punya kriteria tertentu, band ini tampak terpengaruh dengan sejumlah grup band lainnya, seperti Angelic Upstarts, Cockney Rejects, Sham 69, dan The 4-Skins. Pussy Riot tercatat tak memiliki album studio secara resmi, namun mereka telah merilis tujuh lagu dan lima video. Lagu mereka mendapatkan ulasan yang amat beragam, mulai dari "rekaman yang buruk", "nyanyian teriakan", "amatir", "band luar biasa".

Walau tak memiliki album secara konvensional, namun lagu mereka secara bebas bertebaran di internet dengan yang paling terkenal adalah Ubey seksista alias 'Kill the Sexist'.

Tapi jangan pernah meremehkan Pussy Riot. Pada Desember 2017 lalu mereka mengumumkan tur debut mereka di Amerika Utara. Mereka juga pernah membuat sebuah lagu mengkritik Presiden AS Donald Trump bertajuk 'Make America Great Again' pada 2016.