BREAKINGNEWS.CO.ID. "Terima kasih kepada Indonesie, yang telah menolong  saye yang tersesat. Hanya Allah saje yang membalas semue kebaikan ....’’

Kalimat dengan logat Melayu kental itu disampaikan perempuan asal Malaysia dalam sebuah rekaman video. Dalam video berdurasi 48 detik itu, si perempuan tampak berjilbab hitam, wajahnya pucat penuh keringat, dan di latar belakangnya tampak tenda-tenda yang mulai senyap tanpa kehidupan. Itu menunjukkan saat rekaman dilakukan hari telah larut malam. 

Ini cerita yang dipetik dari situs resmi Kementerian Agama, Selasa (28/8/2018) pagi.

Dalam video itu juga terdengar suara perempuan dengan logat Indonesia yang menyambut ucapan terima kasih jemaah haji asal Malaysia itu. Ini menunjukkan orang yang menolong perempuan asal Malaysia itu juga seorang Srikandi dan dia berasal Indonesia. 

Di tengah kebahagian bahwa prosesi haji telah selesai dengan gemilang di bawah ridha Allah swt, rekaman video itu menjadi viral di antara jemaah haji Indonesia yang hendak pulang ke Tanah Air atau tengah bersiap-siap menuju Madinah. Mereka bangga bahwa petugas haji Indonesia ternyata bukan hanya menolong jemaah asal Indonesia, tapi juga membantu semua hamba Allah yang sedang berhaji. Tenda-tenda jamaah Indonesia bersebelahan dengan tenda-tenda jamaah asal Asia Tenggara. 

Sesungguhnya bukan cuma jemaah haji asal Asia Tenggara yang memuji petugas haji Indonesia, bahkan personel militer Arab Saudi pun sampai minta ‘’selfie’’ dengan petugas haji Indonesia setelah dia ditolong.  Selain video yang merekam perempuan Malaysia tadi,  sesungguhnya ada dua foto yang juga menjadi viral di tengah jemaah haji Indonesia.  

Foto pertama memperlihatkan seorang militer Arab Saudi sedang terbaring di atas tikar tengah saat diobati petugas haji Indonesia. Foto kedua menunjukkan personel militer itu ‘’selfie’’ sambil tersenyum bahagia bersama petugas haji Indonesia usai kondisinya membaik. 

Di tengah kebahagiaan atas lancarnya proses puncak haji tahun ini, ternyata ada 300 orang jemaah haji Indonesia yang mendapat pertolongan  petugas haji Indonesia. Mereka rata-rata orang tua renta yang tak sanggup lagi berjalan di Mina di bawah terik Matahari, atau tak kuat terdorong kanan-kiri oleh ratusan ribu massa di sekeliling mereka. Tidak sedikit kondisi mereka cukup mengkhawatirkan, karena sakit dalam arus perjalanan (kaki) ribuan manusia. 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas keselamatan jamaah sekaligus pelaksanaan rukun dan wajib haji mereka, ternyata sudah memikirkan skenario terburuk yang bakal menimpa jemaah berisiko tinggi itu jauh-jauh hari. Ia tak mau satu pun jemaah yang dipimpinnya meninggal dalam arus pergerakan ribuan manusia atau oleh sebab lain yang bisa diprediksi, baik di Arafah, Muzdalifah, terutama di Mina (Armuzna). Untuk itu ia membentuk apa yang disebut ‘’Mobile Crisis Rescue’’ alias MCR yang bertugas mengatasi krisis di tengah jemaah Indonesia. 

Tak tanggung-tanggung, ia menunjuk petugas yang sudah sangat berengalaman pada bidangnya sebagaj kepala satuan operasional "tim siluman" ini untuk menjalani tugas gerak cepat itu di Armuzna. Tugas orang-orang pilihan ini hanya satu: menolong jemaah berisiko tinggi itu di menit pertama saat kejadian berlangsung, entah dengan menggendong mereka ke tugu jamarat atau membawa pulang mereka ke tenda, atau bahkan mengangkut mereka ke rumah sakit dengan ambulans jika mereka sakit parah. Intinya, kecepatan dan keikhlasan bekerja untuk kemanusiaan adalah segala-galanya untuk tim ini. 

Dalam operasinya, MCR tidak hanya bekerja sebatas Mina, tapi juga bersiaga di pos-pos terjauh hingga mendekati hotel-hotel jemaah di Mekah. Di bawah komando Jaetul Muchlis, Kepala Satuan Operasional Armuzna, anggota tim ini bergerak cepat dengan berjalan kaki setiapkali mendengar kecelakaan. Mobil memang tak dapat digunakan di tengah lautan jutaan manusia, kecuali ambulans. Kalaupun ada kendaraan yang bisa dipakai, itu pun hanya sebatas Astuti – Astrea Tujuh Tiga alias sepeda motor jadul buatan Honda keluaran tahun 1973. 

Mereka inilah yang pagi-pagi sudah bersiaga di lantai tiga jamarat, ketika jemaah haji asal Indonesia baru boleh bergerak dari tenda-tenda mereka ke arah tugu Aqabah mulai pukul 11:00. Pagi di hari pertama Jamarat Aqabah itu, mereka tampak berbaur dengan sekitar 100 personel militer Kerajaan Arab Saudi. Jumlah personel MCR hanya delapan orang. Karena itu mereka tampak tenggelam dibanding jumlah militer Arab. Namun demikian, karena personel MCR menggunakan seragam bertugas, dan di bahu kanan mereka terlihat bendera merah putih, keberadaan mereka jadi penyejuk tersendiri buat jemaah yang kebanyakan baru sekali melihat lokasi melontar. 

Menurut Jaetul, anak buahnya di dua pos jamarat yang ia tugaskan siaga 24 jam telah berhasil mengantarkan 6.798 jamaah haji asal Indonesia yang tersesat dari tenda-tenda mereka. Pos pertama berada di lantai tiga berhasil mengantarkan 3.500 jemaah pulang ke tenda masing-masing, sedang pos kedua berhasil memulangkan 3.298 jemaah. Padahal, jarak antara lokasi jamarat dengan tenda-tenda itu rata-rata 6 sampai 10 kilometer. Jadi, kalau ada 6.798 jamaah berhasil diantar pulang akibat tersesat, sudah berapa ribu kilometer semua anggota tim keamanan petugas haji Indonesia itu berjalan kaki? 

Silakan hitung sendiri. Di Gurun Mahsyar nanti, para jemaah haji yang ditolong dan berterima kasih itu akan menjadi saksi paling depan bahwa pemerintah negeri bernama Republik Indonesia tak pernah lalai memperhatikan anak bangsa, baik di dalam negeri maupun di sudut-sudut gurun bernama Arafah-Muzdalifah-Mina.