BREAKINGNEWS.CO.ID – Para petani di daerah Baggao, Luzon, Filipina, mempertaruhkan nyawa mereka untuk tetap tinggal dan menjaga ladang mereka, saat topan Mangkhut menerjang Filipina.  Di kawasan pertanian di pulau Luzon bagian utara itu, sekitar seperempat penduduk hidup dalam kemiskinan, pendapatan mereka kurang dari 2 dolar AS atau sekitar 29 ribu rupiah per hari. Seperti banyak orang di wilayah ini, Llorente merupakan seorang petani kecil. Dua hektar jagung yang dia tanam dengan suaminya habis terendam banjir.

"Rumah kami hancur. Kami terendam banjir. kami tidak mengungsi karena kami tidak ingin meninggalkan carabao (kerbau air) dan ternak kami," kata seorang warga lokal, Diday Llorente, kepada AFP, Minggu (16/9/2018). Llorente tinggal di daerah pertanian di pesisir Baggao yang berpenduduk sekitar 80.000 orang. Daerah itu yang terkena serangan langsung topan Mangkhut pada Sabtu (15/9) malam hari.

Bagi seorang petani seperti dirinya, tidak ada asuransi yang memberikan kompensasi untuk tanaman hancur atau ternak mati. Tidak ada pula tabungan untuk menghidupi saat paceklik. "Apabila kita berpikir dari perspektif mereka, ini merupakan aset terbesar mereka. Hanya ini yang mereka miliki," kata Lot Felizco, Direktur untuk Badan Amal Oxfam Philippines kepada AFP. "Ini benar-benar memilukan. Bagi orang-orang yang hidup dalam situasi sulit dan berbahaya, mereka tidak punya pilihan."

Tidak Ada Jaminan Hidup

Keputusan untuk tidak ikut evakuasi menyimpan konsekuensi tidak terkira. Akan tetapi, kematian 7.350 orang saat Topan Haiyan pada 2013 saja tidak membuat para petani takut. Bagi warga Baggao, hanya kehilangan hasil panen mereka akibat cuaca buruk atau pencurian yang menjadi ancaman bagi mereka.

Pada 2016 lalu, misalnya, Aida Acopan dievakuasi dari tempat tinggalnya saat badai besar menghantam daerah itu. Ia memang selamat, tetapi harus menanggung kerugian. "Seseorang masuk ke rumah saya dan mencuri setengah karung beras. Jadi saya tidak ingin mengambil risiko kali ini," kata dia.

Kerugian itu berkisar 25 kilo bahan pokok yang dikonsumsi setiap kali makan di Filipina. Persediaan yang cukup memang masih menjadi perhatian utama dalam rumah tangga kaya maupun miskin. Kehilangan uang sebesar 10 dolar AS atau sekitar 144 ribu rupiah sama dengan tidak mendapatkan penghasilan lebih dari satu minggu bagi kalangan warga Filipina paling miskin ini. Dengan pemikiran tersebut, para warga pada akhirnya memantapkan keputusan mereka.

"Kami memutuskan untuk tidak mengungsi," kata Acopan. Masalah lain dari evakuasi adalah tak ada jaminan apa pun. Tempat penampungan di Filipina umumnya tak memadai, biasanya hanya beberapa ruang lantai di sekolah atau tempat gym. "Mereka kehilangan kendali atas apa pun yang mereka miliki dalam situasi itu," kata Felizco.

Namun, tidak ada pula jaminan jika mereka tetap menjaga tanaman atau ternak, mereka bisa bertahan hidup. Dalam kasus Mangkhut, angin kencang bisa mencapai 255 kilometer perjam serta curah hujan tinggi di beberapa daerah selama satu bulan. Mary Anne Baril menjadi saksinya ketika topan itu menerjang daerah sekitar rumahnya, merusak tiang listrik, ladang-ladang pertanian, dan menyebabkan pohon-pohon tumbang, termasuk miliknya. "Kami sudah miskin, kemudian badai ini terjadi pada kami. Kami tidak punya cara lain untuk hidup," katanya kepada AFP sambil menyeka air mata.