JAKARTA—Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun  2017 ini tak mencapai target. Proyeksi  dalam APBN-P 2017 adalah 5,2 persen. Namun sampai dua bulan jelang akhir tahun,  angkanya baru sampai di angka 5,03 persen. Jadi untuk sampai ke yang diinginkan akan sangat berat. "Kalau mau kejar di triwulan IV harus relatif tinggi di atas 5,5 persen. Itu tampaknya agak berat meskipun ada harapan di investasi, ekspor dan konsumsi pemerintah. Mungkin tercapai 5,1 persen," ujar Ketua Bappenas Bambang Brojonegoro di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Bambang menuturkan, pertumbuhan ekonomi tetap melanjutkan tren positif, didukung oleh pertumbuhan investasi dan ekspor yang  tinggi, serta perbaikan konsumsi pemerintah. Namun konsumsi rumah tangga mengalami sedikit perlambatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia menurut pengeluaran pada triwulan III-2017 tumbuh mencapai 5,06% secara  tahunan (year on year/yoy) yang peningkatannya didorong oleh semua komponen.

Seluruh komponen PDB pengeluaran tumbuh positif. Pertumbuhan yang tertinggi adalah ekspor yaitu 17,27%. Investasi yang  ditunjukkan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,11%. Sedangkan konsumsi pemerintah paling rendah pertumbuhannya yaitu 3,46%.

Mantan menteri keuangan ini menuturkan, ekspor yang mampu tumbuh double digit sebesar 17,27% merupakan yang tertinggi sejak triwulan II-2011. Ekspor riil barang non migas tumbuh tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, yaitu 20,51%.

"Kenaikan ekspor juga didorong oleh kenaikan ekspor jasa yang tumbuh 12,4 persen, salah satunya didorong oleh sektor pariwisata," ujar Bambang.

Sementara itu, pertumbuhan investasi triwulan III-2017 mencapai 7,11%, merupakan yang tertinggi sejak triwulan I-2013. Didorong  pertumbuhan investasi mesin dan perlengkapan, serta peralatan lainnya,yang mencapai double digit, masing-masing 15,18% dan  16,83%. Sebelumnya sejak 2016, pertumbuhan investasi mesin dan perlengkapan cenderung mengalami kontraksi.

"Peningkatan investasi pada mesin dan peralatan lainnya mengindikasikan adanya penguatan aktivitas produksi yang berkelanjutan ke depan," kata Bambang.

Selain itu, pertumbuhan investasi bangunan juga meningkat yaitu 6,28%, didorong proyek infrastruktur pemerintah. Hal tersebut terlihat juga dari penjualan semen yang meningkat.

Sedangkan yang terkait dengan pertumbuhan konsumsi pemerintah yang membaik, lanjut Bambang, didorong realisasi belanja pemerintah pusat di triwulan III-2017 yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2016.

Namun merujuk data masa lalu, pertumbuhan konsumsi pemerintah tidak cukup tinggi, mengingat base tahun 2016 yang rendah  seharusnya bisa tumbuh di atas 5,0%. "Artinya realisasi belanja triwulan III masih kurang tinggi. Ada potensi pertumbuhan konsumsi pemerintah triwulan IV yang lebih tinggi," ujar Bambang.

BREAKINGNEWS.CO.ID