BREAKINGNEWS.CO.ID -  Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak sosial yang luar biasa kepada masyarakat. Kebosanan, frustrasi, dan kepanikan sosial bisa memprovokasi pandangan ekslusif dan radikal yang kemudian dapat meradikalisasi masyarakat.. Karena itu penting adanya vaksin yang bisa menjaga imunitas sosial dan kultural agar tidak mudah terprovokasi dari virus radikalisme.

Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah, KH.Yusnar Yusuf Rangkuti, M.Sc, Ph.D mengatan bahwa paham radikal terorisme sebenarnya adalah sesuatu ajaran pemikiran yang menyimpang dari paham yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri. Adanya pemikiran yang menyimpang dari agama Islam itu dikarenakan memahami terhadap ajaran Islam yang tidak sempurna dan tidak mendalam.

“Sehingga kemudian memandang orang lain itu tidak sesuai dengan pandangan dia. Inilah yang kemudian menjadi paham radikal. Padahal paham yang benar tentang Islam itu tentunya adalah ‘Ya’lu Wala Yu’la ‘alaihi’ yang artinya adalah Islam itu adalah sesuatu agama yang lebih tinggi dari pada agama yang lain sehingga tidak perlu khawatir,” ujar KH.Yusnar Yusuf Rangkuti, M.Sc, Ph.D, di Jakarta, Sabtu (20/6/2020).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menyampaikan bahwa salah sati cara untuk membendung penyebaran paham radikalisme adalah melalui dakwah dengan untuk meluruskan pandangan radikal tersebut yang dilakukan secara terus menerus.  
“Dakwah harus terus dilakukan tanpa henti untuk memberikan pandangan yang benar dan meluruskan padangan-pandangan yang melenceng terhadap Islam itu tadi. Sehingga masyarakat memiliki paham yang benar bahwa Islam itu adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin dan tidak mengajarkan kekerasan ataupun melakukan aksi terorisme,” tutur  pria .kelahiran Medan, 25 Maret 1955 ini

Pria yang jutga Imam Besar Masjid Raya Telaga Kahuripan Bogor ini mengungkapkan bahwa sebenarnya perbedaan pendapat di dalam agama Islam adalah suatu hal yang biasa. Contohnya mengani adanya kebijakan yang mengatakan boleh shalat Jumat beberapa gelombang saat oanemi Covid-19 ini.

“Ada yang mengatakan boleh dilakukan bergelombang, berganti-gantian sebagai upaya untuk mencegah peyenbaran virus corona. Ini juga semapat menjadi pertentangan di media. Tapi ya silahkan saja shalat Jumat sesuai yang ditetapkan, kan itu hanya sementara saja yang tujuannya baik untuk mencegah penyebaran virus,” terang pria yang juga Wakil Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini.

Dalam menghadapi virus Covid-19 yang mana banyaknya provokasi yang menentang kebijakan pemerintah dan bahkan kebijalan ulama yang dihembuskan pihak yang tidak bertanggung jawab, menurutnya terkait hal tersebut masyarakat bukannya terprovokasi, melainkan kurangnya kontrol di media sosial (medsos) sehingga mudah sekali dalam menyebarkan hoaks.

“Saya melihat di medsos yang sekarang itu tidak terkontrol maka seharusnya pemerintah melakukan tindakan kepada mereka-mereka yang menyebarkan hoaks. Tangkap saja yang suka menyebar hoaks itu. Karena itu telah menyebarkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah dikatakan pemerintah,” kata Tokoh Agama Islam dari Provinsi Sumatra Utara ini.

Yusnar  yang sering melakukan dakwah dan syiar Islam ke berbagai negara bertematik Islam agama Rahmatan Lil Alamin sebagai Islam toleran ini juga menambahkan bahwa perlunya moderasi beragama untuk menanamkan sikap toleransi keberagaman kepada masyarakat. “Kalau dalam moderasi beragama, apa yang telah disampaikan oleh pemerintah ataupun ulama yamg mana hal tersebut merupakan suatu hal untuk kebaikan banyak umat, tentunya kita harus mematuhinya. Karena hal itukan juga bagian dari melaksanakan toleransi. Dan di dalam Islam juga mengajarkan seperti itu, ‘Ruhama bainahum’ yang artinya menebarkan kasih sayang terhadap sesama,” ungkap pria yang juga qori Internasional ini.

Selain itu dalam menanamkan vaksin anti radikalisme pada diri masyarakat, peraih gelar Doktoral dari University Kebangsaan Malaysia itu mengatakan bahwa sebenarnya sejak dulu imunitas itu sudah ada pada diri masing-masing manusia termasuk imunitas untuk melawan virus radikal.

“Kita sebenarnya sejak dulu bisa menumbuhkan imunitas untuk diri kita sendiri bahkan tanpa vaksi. Tetapi apakah boleh ada vaksin? Ya boleh saja. Terkait vaksin anti radikalisme untuk menjaga diri dari pengaruh paham radikal, tentunya Islam sendiri sudah mengajarkan sejak awal yang namanya ‘Thaharah’ yang bermakna bersih atau menyucikan diri yang mencakup secara lahir dan batin. Kalau diri kita sudah bersih, tentunya tidak akan kena yang namanya vius radikal seperti itu,”  tuturnya

Terkait peran ormas Islam dalam berperan saat menghadapi Covid-19 ini, peraih gelar Master dari Institut Pertanian Bogor itu mengungkapkan bahwa selama ini ormas Islam termasuk ormas Al Washliyah yang dipimpinnya sebagai salah satu anggota LPOI ini sudah memberikan bantuan kepada masyarakat,  bahkan tanpa diminta oleh pemerintah terlebih dahulu.

“Sejak awal kita dari ormas Islam termasuk Al Washliyah sudah turun langsung memberi bantuan kepada masyarakat. Kami berkumpul dulu lalu kemudian turun membantu masyarakat yang terdampak itu. Kita lihat masyarakat disekitar kita yang tidak bekerja karena terkena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kita kasih mereka bantuan untuk meringankan,” ucap Ketua Ikatan Persaudaraan Qaridan Qariah Hafiz dan Hafizah (IPQAH) itu.

Yusnar menambahkan bahwa kenapa pemerintah terkesan terlihat lambat memberi bantuan karena terbentur dengan aturan yang ada yang menurutnya bisa dimaklumi dan hal itu tidak masalah. Karena masyarakat dan ormas Islam telah bergerak lebih dulu. “Pemerintah agak terlambat memberikan bantuan karena memang terbentur dengan aturan yang berlaku dan sebagainya. Itu lumrah-lumrah saja tidak ada masalah. Dan kami para ormas Islam sebelum diminta sudah turun duluan membatu masyarakat yang terampak Covid-19 ini,” ujar penulis buku “Prasangka Beragama” ini.

Dalam kesempatan tersebut pria yang juga pernah menjadi Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) ini juga menghimbau kepada umat muslim di Indonesia untuk kembali memunculkan keramah tamahan yang dimiliki masyarakat bangsa Indonesia dengan senyum sehari-hari. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama warga bangsa ini dan terhadap warga bangsa lain.

“Kita menghimbau kepada umat muslim Indonesia karena saya kira bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang sangat ramah. Kembalilah kita galakkan senyum yang ramah kepada semuanya, karena dengan senyum itu akan terlihat bahwasannya bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang ramah, bangsa yang sangat toleran,” ujar mantan Direktur Pendidikan Agama Islam Masyarakat Departemen Agama ini mengakhiri.