EAKINGNEWS.CO.ID - Nama Nendia Primarasa saat ini sudah semakin dikenal. Berdiri tahun 2004, perusahaan katering dan penyedia jasa pernikahan ini telah berjalan hampir 15 tahun dan telah diterima ribuan penganten. Namun, siapa yang tahu bahwa perjalanan Nendia Primarasa sejak dibangun hingga saat ini memiliki sejumlah pelajaran yang perlu dicontoh oleh seseorang yang ingin terjun ke dunia kuliner. Kini, katering yang berlamat di Jalan Bina Harapan 38-A, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, ini, kian diakrabi masyarakat luas.

Rahasia Sang Pencipta dalam diri manusia seperti dalam hal rezeki, jodoh, maut, menjadi hak prerogatif Allah dan semua itu menjadi hujah orang-orang yang berpikir. Seperti hal nya takdir yang dialami oleh mantan model H. Heru Pujihartono, pemilik Nendia Primarasa. Dia tak pernah tahu apa yang Allah tetapkan kepadanya. Sebagai manusia, tugasnya adalah berdoa dan berusaha.

Heru Puji Hartono bersama sang istri, Resti Nendia

Pertemuannya dengan gadis Minangkabau, Resti Nendia pada tahun 1996 tidak pernah ia rencanakan. Kesibukannya sebagai model yang ketika itu mempersiapkan perayaan Hari Pangan Sedunia dengan menampilkan keanekaragaman budaya Indonesia, mempertemukannya dengan Resti yang kala itu berprofesi sebagai penari. Rasa cinta itu pun muncul seiring dengan intensnya pertemuan.

"Istri saya itu awalnya adalah penari. Keterlibatannya lebih banyak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di anjungan provinsi-provinsi yang ada di TMII. Fokusnya dalam mempertahankan budaya-budaya dengan tariannya. Dan pada saat 1996 itu ada satu pertunjukan Hari Pangan Dunia bulan September, dengan persiapan pembahasan krisis nutrisi saudara-saudara kita di Etiopia," kata Heru kepada Breakingnews.co.id, Minggu (30/12/2018).

"Nah, dalam persiapannya menampilkan satu kolosal dan tarian disitu penyampaian makna yang luar biasa. Pada saat itu juga dihadiri oleh Almarhum Presiden Soeharto. Dan dalam persiapan menjelang acara itu saya sering ketemu. Dia sebagai penari latarnya dengan menampilkan banyak ragam budaya, dan saya yang memperagakan pakaian budaya Indonesuia yang saat itu masih 27 provinsi," ujarnya menambahkan.

"Sering latihan kemudian disitu saling mempunyai kedekatan. Selesai acara Hari Pangan Dunia, berlanjut pada suatu pertemuan. Setelah itu, istri saya sering mengisi suatu acara yang digelar oleh swasta maupun pemerintah, maupun acara wedding, dan saya karena pendekatan saya jemput dan antar," cerita Heru.

Salah satu calon pengantin yang berkonsultasi dengan tim Nendia Primarasa 

Pendekatan Heru dengan Resti pun berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Pada 2000, mereka memutuskan untuk menikah. Setahun berlalu (2001), buah cinta itu pun lahir ke dunia sebagai sosok manusia yang baru, dan mereka beri nama Ken Rio Rayhan Avfan Herez. Pada tahun 2004, Heru dan Resti mencoba membangun di tengah krisis pasca reformasi 1998, Kemudian, mereka mencoba melihat satu hal yang bisa dilakukan dalam situasi itu.

Akhirnya ide-ide brilian muncul. Ketika Resti membuka usaha katering, Heru melengkapinya dengan paket pernikahan, yang masih ada sentuhan kulltur budaya karena kecintaannya kepada Bumi Pertiwi. "Sehingga pada 2004 itu kami membina harapan itu yang kemudian Alhamdulillah, dan berdirilah Nendia Primarasa di Jalan Bina Harapan. Dalam perjalanannya pada 2004 itu Alhamdulillah bisa diterima oleh pasar. Di situ saya menunjukkan eksistensi, komitmen untuk memberikan yang terbaik. Sehingga pada 2004 dan selanjutnya sangat luar biasa," ungkap Heru.

Jalan tak selalu mulus bagi Heru dan Resti bersama Nendia Primarasa. Namanya usaha ada pasang juga ada surutnya. Pada 2008-2009, cobaan menghampiri. Namun, Heru tak menyerah, karena iya meyakini bahwa pohon yang tinggi akan diterjang oleh angin yang lebih deras. "Karena sesuatu itu kalau sudah diterima, tapi tidak hati-hati akan mendapatkan cobaan. Kemudian 2010-2011 kami mendapatkan titik dimana mendapatkan cobaan yang begitu dahsyat. dan kemudian kami mencoba bangkit di 2012. Dan pada 9 tahun Nendia Primarasa (2013) saya bangun resolusi. Saya rombak total, dari kantor, hingga SDM-nya. Dan Alhamdulillah pada 2015 setelah itu, kami mampu mengikuti satu exhibition wedding, dan ketika itu dapat diterima oleh pasar," kata Heru.

Rungan H. Heru Pujihartono 

Cobaan telah Heru dan Resti jalani, kesabaran dan komitmen membuat Nendia Primarasa menjadi salah satu perusahaan katering dan jasa pernikahan terkemuka di Ibu Kota. "Sehingga pada tahun 2016 sampai sekarang ada satu kebanggan. Kami bisa meraih beberapa penghargaan salah satunya Apresiasi Penjualan Tertinggii di Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) ke-9 Nobvember 2018. Dan penjualan tertinggi di 165 Wedding Exhibition di Menara 165. Kemudian di sepanjang pegelaran GPI dari edisi ke edisi, kami selalu masuk dalam lima besar penjualan tertinggi," tutur Heru.

"Dan ini bukti bahwa eksitensi Nendia Primarasa ini bisa diterima oleh masyarakat dan tentunya di 2019 ini resolusi yang kemudian kita bangun adalah bagaimana Nendia Primarasa tradisi membahagiakan mempunyai sikap konsisten yang terus memberikan yang terbaik yang kemudian klien yang percaya kepada kami,"pungkas Heru.