BREAKINGNEWS.CO.ID –  Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat pada periode September volume ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan sebesar tiga persen dibanding bulan  sebelumnya. Jumlah tersebut termasuk biodiesel dan oleochemical turun 3% dari 3,3 juta ton di Agustus menjadi 3,2 juta ton.

Rendahnya harga CPO global tidak menjadi magnet bagi negara pengimpor, mengingat harga minyak nabati lainnya seperti kedelai, rapeseed dan biji bunga matahari juga sedang murah. Harga kedelai jatuh di level terendah sejak 2007 akibat eskalasi perang dagang AS-China.

Data Gapki juga menunjukkan penurunan ekspor CPO dan turunannya di September juga  terjadi ke negaranegara seperti  ke Cina sebesar 25%, Pakistan 24%, AS 50%, dan negara-negara Timur Tengah 21%.

Salah satu negara penghasil kedelai terbesar, Argentina melakukan pemotongan pajak ekspor untuk menarik pembeli. Peningkatan produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia memperburuk situasi sehingga stok menumpuk di dalam negeri.

Namun dari total tersebut, volume ekspor minyak sawit (CPO, PKO,dan turunannya) tidak termasuk oleochemical dan biodesel hanya mampu mencatat 2,99 juta ton sepanjang September 2018, stagnan cenderung menurun secara bulanan.

Secara kumulatif, ekspor minyak sawit RI hingga September tercatat 22,95 juta ton, turun 1% dibandingkan Januari-September 2017 sebesar 23,19 juta ton.

India masih menjadi negara tujuan ekspor utama bagi produk CPO RI dan turunannya di September sebesar 779,44 ribu ton. Namun jumlah ini turun 5% secara bulanan di mana India mengimpor 823,34 ribu ton.

Baru-baru ini, pemerintah India menerapkan kebijakan biofuel dengan target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran biodiesel pada 2030. Kebijakan ini tentunya membuka peluang pasar lebih besar bagi Indonesia bagi biodiesel berbasis sawit.

Gapki meminta pemerintah memberi perhatian khusus terhadap tarif bea masuk di India. Malaysia akan menikmati pengurangan bea masuk di India masing-masing 5% untuk CPO dan refined product sebagai buah dari perjanjian perdagangan bebas (FTA) antar kedua negara yang berlaku efektif 1 Januari 2019.

Peluang Indonesia mengisi kebutuhan minyak sawit India akan tergerus apabila tidak ada langkah dari pemerintah untuk meningkatkan perdagangan melalui FTA maupun Preferential Trade Agreement (PTA).