BREAKINGNEWS.CO.ID – Seluruh warga Zimbabwe saat ini menggunakan hak pilihnya dalan pemilihan umum (pemilu) perdana sejak penggulingan Robert Mugabe pada Senin (30/7/2018). Pemilu ini diharapkan dapat membersihkan negara dari citra pariah global (negara yang dianggap tersingkir dalam komunitas internasional) dan memicu pemulihan perekonomian.

Pemilu ini menghadapkan Presiden Emmerson Mnangagwa, sekutu lama Mugabe, dengan Nelson Chamisa, pengacara juga sekaligus pendeta yang mencoba untuk menjadi kepala pemerintahan termuda Zimbabwe. Survei menunjukkan Mnangagwa, mantan kepala intelijen yang mengambil kekuasaan usai Mugabe digulingkan lewat kudeta tidak berdarah November lalu, unggul tipis dari Chamisa. Apabila tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari separuh keseluruhan suara, pemilu putaran kedua digelar pada 8 September 2018 mendatang.

Dijuluki "buaya," hewan yang terkenal di kisah tradisional Zimbabwe sebagai sosok tersembunyi dan kejam, Mnangagwa bersumpah membangkitkan kembali perekonomian yang lesu, menarik investasi asing serta melakukan perbaikan terhadap perpecahan ras serta suku. "Orang-orang berkata, dan saya punya pandangan yang sama, bahwa sesuatu yang istimewa akan terjadi di Zimbabwe," kata Mnangagwa dalam kampanye terakhirnya di stadion nasional Harare.

"Setelah terpilih kembali pada Senin, dengan mandat nyata untuk perubahan dan periode penuh lima tahun, saya menjamin hanya akan ada kemajuan di negara kita. Komitmen saya adalah membawa perubahan konkret yang akan memberi kenyamanan bagi seluruh warga Zimbabwe." Chamisa, pembicara karismatik yang mendapatkan keahliannya di pengadilan dan mimbar, mendapatkan dukungan dari pemilih muda dan pengangguran yang frustrasi atas kepemimpinan empat dekade Front Uni-Patriotik Nasional Afrika Zimbabwe (ZANU-PF).

"Momentumnya besar. Kemenangan pasti dicapai. Tak ada yang bisa menghentikan rakyat Zimbabwe mengklaim kemenangan," kata Chamisa kepada wartawan, sebagaimana dikutip Reuters. "Kami melakukan segalanya untuk memastikan kemenangan di pemilu ini." Secara mengejutkan, Mugabe menyatakan akan memilih oposisi, melawan mantan sekutunya.

Mnangagwa kemudian menuding mantan bosnya itu membuat kesepakatan dengan Chamisa, tetapi tidak memberikan bukti. "Pilihannya jelas, Anda memilih Mugabe dengan kedok Chamisa atau Anda memilih Zimbabwe baru di bawah kepemimpinan saya dan ZANU-PF," kata Mnangagwa dalam video di laman Facebook resminya.

Untuk diterima kembali di masyarakat internasional, mengakhiri sanksi dan mengamankan bantuan yang diperlukan untuk mengakhiri krisis ekonomi krisis, Zimbabwe membutuhkan pengamat untuk setidaknya menyebut pemilu ini kredibel. Selama ini terdapat laporan intimidasi dan pemaksaan, sementara media pemerintah condong mendukung ZANU-PF. Walau demikian, banyak pihak menganggap proses kali ini lebih baik dari sebelumnya.