BOYOLALI - Sebuah perayaan Natal yang dikemas dengan keanekaragaman budaya Indonesia berlangsung di Boyolali, Jawa Tengah,  Senin (25/12/2017). Pesan pluralisme itu diangkat untuk mengajak semua menjaga keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

"Kami ini menunjukkan kekayaan (keragaman budaya) ini. Kami memahami itu bukan sebagai perbedaan, tetapi sebagai kekayaan Indonesia," ujar pendeta Krishandrika Immanuel Raharjo.

Sejumlah keanekaragaman budaya Indonesia ditampilkan. Antara lain, tari adat Papua, tari Saman, vokal grup Bahasa Ambon, paduan suara wanita dalam prolog drama. Kemudian Punowakan, Tembang Macapat, musik Gamelan dan Tari Topeng Ireng. Selain itu, pujian Sekolah Minggu juga berpakaian adat dari berbagai suku di Indonesia.

Krishandrika juga menyebutkan, Natal adalah kasih dan damai untuk semua umat. Tema keberagaman ini diangkat, untuk menegaskan pentingnya damai dan persatuan, utamanya seluruh bangsa Indonesia.

Menurutnya persoalan keberagaman, perbedaan suku maupun agama, yang sering muncul akhir-akhir ini menjadi sebuah keprihatinan bersama. Selain menjadikan suasana yang kurang enak, juga kontras dengan cita-cita Pembukaan UUD 1945. "Di mana di sana Indonesia punya keinginan, visi perdamaian yang abadi. Dan di dalam umat Kristiani, di dalam Alkitab, kami memiliki panggilan untuk menjadi saluran damai sejahtera bagi semua orang," katanya.

Upaya menyelaraskan diri dengan panggilan Alkitab serta kecintaan pada tanah air, maka dalam perayaan Natal kali ini, pihaknya menyajikan keragaman budaya Indonesia sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan itu bukan sebagai pembeda namun justru sebagai kekayaan bangsa yang menyatukan.

"Dalam perayaan Natal ini, tak hanya mengundang umat Kristiani, tetapi kami juga mengundang masyarakat lingkungan sekitar," pungkasnya.