BREAKINGNEWS.CO.ID- Faktor eksternal kembali memaksa rupiah ditukar lebih rendah pada Selasa (11/12/2018) iini dibandingkan transaksi sehari sebelumnya. Rupiah hari ini ditutup turun sebesar 75 poin ke posisi Rp14.624 dibandingkan sebelumnya Rp14.549 per dolar AS.

Menurut analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, sentimen yang datang dari eksternal masih menjadi faktor utama bagi pelemahan mata uang rupiah, salah satunya bayangan perang dagang AS dan Cina yang kembali meningkat. "Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian perang dagang. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengalihkan dananya ke aset yang lebih likuid, dalam hal ini dolar AS," ujarnya di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Menurut dia, mata uang di negara berkembang menjadi kurang diminati mengingat dampak perang dagang dikhawatirkan mempengaruhi perekonomian global.

"Meski data ekonomi Amerika Serikat cenderung melambat dan sinyal the Fed yang dovish terhadap suku bunga tidak membuat dolar AS menjadi tertekan, hal itu dikarenakan mata uang Amerikak Serikat itu dinilai sebagai aset yang likuid," ucapnya.

Ia menambahkan sentimen dari dalam negeri mengenai defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga masih menjadi beban bagi fluktuasi rupiah.

Pada bagian lain, ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menambahkan dolar AS juga mengalami penguatan terhadap mayoritas mata uang dunia karena dipengaruhi ketidakpastian terhadap prospek ekonomi Eropa dan Inggris. "Dolar AS kembali menjadi safe haven di tengah ketidakpastian tersebut. Menguatnya dolar AS di pasar global itu kembali menekan rupiah pada hari ini," katanya.

Pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan ini merupakan imbas lanjutan atas

ketidakpastian akibat keputusan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang menunda pemungutan suara di parlemen terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa. "Menguatnya dolar AS di pasar global itu kembali menekan rupiah pada hari ini," katanya.