JAKARA - Meski kejadian sudah berlalu dan pelakunya sudah diringkus dan bahkan ada yang ditembak mati, San San (24), wanita yang menjadi korban perampokan di taksi online Grab Car masih sulit melupakan kejadian yang menimpa dirinya. San San masih mengalami trauma berat. 

Trauma yang masih membaluti psikologis San San membuat polisi tak bisa berbuat banyak dan terpaksa menunggu proses lanjut untuk pemeriksaan terhadap korban San San bagi kebutuhan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). "Masih trauma berat," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarra Barat AKBP Edi Suranta Sitepu saat dihubungi, Minggu (29/4/2018).

Polisi telah menawarkan agar korban bisa menjalani trauma healing. Pendampingan psikologi diberikan supaya traumatik yang dialami San San bisa hilang. "Sudah kita tawarkan (trauma healing). Nanti ada pendampingan psikologi," kata Edi. 


Terhadap kasus ini bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sudah mendatangi Polres Metro Jakarta Barat untuk meninjau langsung kasus perampokan yang dialami penumpang Grab Car, Sabtu (28/4/2018). "Menhub, Komnas, perempuan sama LBH Apik, melakukan pendampingan terhadap korban," kata Edi Sitepu. 

Dalam kasus ini polisi menangkap tiga perampok yang menyekap San San. Mereka adalah LI (23), AP (23) dan SN (23). Polisi pun terpaksa menembak mati LI lantaran dianggap melakukan perlawanan saat hendak dibekuk. 

Kasus perampokan disertai percobaan perampokan berawal ketika San San menumpang taksi online Grab di kawasan Bukit Duri Selatan, Tambora, Jakbar pada Senin (23/4/2018) pagi. Saat di tengah perjalanan menuju lokasi  yang dituju, San San yang duduk di bagian tengah, tiba-tiba langsung disekap dua tersangka yang bersembunyi di kursi belakang

Dalam aksinya komplotan ini menggunakan mobil Karimun Wagon yang biasa digunakan sopir Grab Car bernama Gugus Gunawan. Sopir taksi online itu tak lain adalah ayah tiri Li yang menjadi otak perampokan terhadap San San.