BANTAENG - Beberapa pihak menyayangkan rencana pernikahan anak yang masih berusia 14 tahun di Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tak terkecuali, Syarif Hidayat yang bertindak sebagai penghulu yang akan menikahkan kedua mempelai tersebut. Secara aturan, menurutnya tidak mempermasalahkannya. Namun, dari sisi mental dan psikologis mempelai dikhawatirkan akan berdampak. "Bagi kami sih tidak masalah, karena kami sudah sesuai aturan yang berlaku. Yang kasihan itu mereka (mempelai), dampaknya bisa mengganggu mental dan psikologi mereka. Apa lagi banyak berita yang menyudutkan mereka," katanya, Minggu (15/4/2018).

Adapun kedua mempelai tersebut saat ini sudah tidak bersekolah lagi. Mempelai perempuan sebelumnya sempat sekolah hingga duduk di bangku kelas 2 SMP, namun saat ini tidak melanjutkannya lagi. Sementara, calon suami saat ini disebut sudah memiliki pekerjaan. Selama ini, keduanya menjalin hubungan sebagai pacar. "Perempuan ini kelas dua SMP berhenti. Saya tidak tahu apakah sebelum dilamar atau sesudahnya. Nah calon suaminya juga sudah bekerja. Kami tidak begitu tahu persisnya, karena kami tidak periksa soal kerjaan," ungkap Syarif.

Adapaun rencana pernikahan akan digelar pada Senin (16/4/2018) besok. Namun, pihak penghulu pun masih belum dapat memastikan pernikahan mereka. Pasalnya, dokumen dispensasi dari camat belum ada dan pembayarannya juga belum dilakukan. Mempelai perempuan itu dipersunting dengan mahar sebidang tanah dengan luas 500 meter persegi oleh calon suami. "Insya Allah kalau tidak ada halangan akan digelar besok. Memang masih ada yang dokumen dari camat dan pembayaran belum dilakukan. Maharnya sebidang tanah seluas 500 meter persegi," sebutnya.

Syarif pun bercerita, eebulan yang lalu pihak keluarga kedua mempelai mengajukan pernikahan. Namun, karena belum cukup umur, permohonan itu sempat ditolak. Setelah permohonan dispensasi mereka diterima oleh Pengadilan Agama (PA) Bantaeng, keduanya akhirnya mendapatkan restu penghulu. "Syarat-syarat lain, sudah kami periksa. Apakah ada hubungan persaudaraan yang membuat mereka tidak bisa menikah, walinya juga sudah ada dilengkapi semuanya. Kami tidak ada alasan menolak lagi. Apalagi ada dari Pengadilan Agama," lanjutnya. "Secara pribadi, saya menolak yang namanya pernikahan dini. Tapi ini juga berdasarkan aturan. Kita hanya bisa memberikan nasihat agar mereka baik-baik saja setelah menikah," ujarnya.

Sementara itu, pihak keluarga mempelai pun menolak memberikan keterangan dengan alasan akan berdampak secara psikologis kepada kedua mempelai tersebut. "Nanti saja habis mereka menikah," kata pihak keluarga yang enggan menyebutkan namanya itu.