JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung sukses menggelar debat publik pasangan calon wali kota Bandung yang kedua pada Minggu (15/4/2018) malam. Tiga pasangan calon wali kota Bandung sukses menyampaikan sejumlah strategi dalam merampungkan permasalahan dengan solusinya kala memimpin nanti.

Tetapi, dari tiga calon peserta Pilwalkot Bandung, pasangan Nurul Arifin-Chairul Yaqin Hidayat (Nuruli) dinilai tampak lebih baik dengan memanfaatkan waktu debat secara maksimal, dengan konten penyampaian yang efektif. Hal tersebut diungkapkan pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Firman Manan. "Secara performa, dalam aspek komunikasi dan manajemen waktu, paslon Nurul-Ruli lebih unggul dibandingkan kedua paslon lain," kata Firman, Senin (16/5/2018).

Meskipun demikian, Firman mengungkapkan, pelaksanaan debat publik pasangan Cawalkot Bandung yang kedua kalinya ini tetap masih kurang greget. Ketiga pasangan calon belum juga dapat menerangkan program secara nyata serta lebih rinci. "Secara umum, debat berlangsung datar, normatif, tidak menyentuh hal-hal konkret‎," ujar dia.

Disamping itu, Antropolog Unpad, Budi Rajab menilai, penampilan ‎pasangan calon Nuru-Ruli ini paling menonjol dalam debat kedua Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung 2018. Pasalnya, pasangan nomor urut 1 itu paling lugas memberi jawaban.

Kendati Ruli dinilai masih kurang fokus dalam memberi jawaban, tetapi Budi melihat wakil yang diusung oleh Partai Demokrat itu malah sangat tenang berbicara di hadapan publik. Dia juga melihat solusi yang dipaparkan oleh Nurul - Ruli lebih tepat sasaran pada persoalan yang diidentifiksi. "Nurul geulis, bicara lugas dan konkret, tidak mutar-mutar, kayanya, dia sudah menguasai public speaking. Hanya Ruly yang agak mutar-mutar, tidak to the point, meskipun lebih rileks dari Nurul‎," kata Budi.