BREAKINGNEWS.CO.ID - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan jika dalam kasus hoax aktivis Ratna Sarumpaet, calon presiden nomor urut dua Prabowo Subianto menjadi korban dalam kasus itu. Namun adanya tindakan untuk mendiskualifikasikan Prabowo dalam ajang Pilpres 2019, merupakan tindakan mimpi di siang bolong.

"Adanya keinginan mendiskualifikasi Prabowo sebagai tindakan seperti mimpi disiang bolong. Keinginan itu hanya karena Prabowo dituding ikut memberitakan hoax Ratna," kata Pangi kepada breakingnews.co.id saat dihubungi melalui pesan singkatnya, Kamis (11/10/2018).

Menurutnya, dalam kasus itu sendiri, Ratna sudah mengeluarkan dua pernyataan yang berbeda sebelumnya. Pertama, jika dirinya diakui dianiaya. Kedua, Ratna sendiri membantah jika dirinya dianiaya dan ia mengaku membohongi Prabowo.

"Tesis pertama Ratna mengakui bahwa dia sudah dianiaya. Tesis kedua, beliau membantah telah dianiaya. Baik tesis pertama dan kedua, beliau sudah bohong. Pertanyaannya adalah apakah pantas mempercayai pembohong sebagai informan. Karena kedua tesis itu merupakan sebauah kebohongan," ujarnya. Lantas, Pangi pun mempertanyakan kenapa Prabowo yang harus diseret ke dalam kasus tersebut. Bahkan dirinya menilai jika sumber kebohongan itu ada pada Ratna sendiri.

"Mengapa Prabowo yang harus diseret seret? Sementara sumber kebohongan sudah diakui oleh ratu kebohongan, biar dirinya saja yang dihukum karena sudah menyebarkan berita bohong, ngak perlu diseret seret orang lain. Selesai di Ratna. Apakah pantas mempercayai pembohong, Prabowo adalah korban kebohongan Ratna Sarumpeet, bahkan Prabowo sendiri dipermalukan oleh ratu kebohongan dunia yaitu Ratna Sarumpaet," terang Pangi yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, relawan Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) mendatangi Bawaslu RI untuk memberikan keterangan terkait laporannya terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang dituding telah melakukan kampanye hitam lewat penyebaran hoax Ratna Sarumpaet. Saat tiba di Bawaslu, GNR membawa kartu kuning untuk Prabowo. 

"Kartu kuning yang kita bawa ini sebagai peringatan pada Pak Prabowo Subianto, kami menduga bahwa pak Prabowo Subianto telah melakukan pelanggaran PKPU No 23 Tahun 2018 pasal 69 ayat 1 poin b," kata Sekjen GNR, Ucok Choir di Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (11/10/2018). 

Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Choir mengharapkan Pilpres 2019 berlangsung tertib dan aman. "Nah ini semoga tidak terulang kembali. Jadi ini adalah sebuah peringatan karena kami juga bukan eksekutor, hanya sifatnya mengingatkan semoga pemilu ke depan yang akan kita selenggarakan 6-7 bulan lagi berjalan aman, tentram dan tertib langsung, bebas, rahasia," ungkapnya.