BREAKINGNEWS.CO.ID - Pelatih Mitra Kukar, Rahmad Darmawan mengaku sempat ditawarkan untuk melakukan pengaturan skor. Hal itu terjadi pada 2008 ketika dirinya masih menukangi Sriwijaya FC. Saat itu, kata RD, begitu sapaan akrabnya, ketika Sriwijaya FC melakoni pertandingan melawan klub asal China, Shandong Luneng, pada laga penyisihan Grup F Liga Champions Asia di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, 20 Mei 2009.

Rahmad Darmawan menerima telepon dari sosok yang tidak dikenal olehnya sebelum pertandingan. Dalam percakapan itu, RD diiming-imingi uang sebesar Rp 1,5 miliar agar mengalah dari Shandong Luneng. "Kami waktu itu partai melawan Shandong Luneng (klub Tiongkok) di kandang. Waktu itu kami sedang telat gajian setengah bulan dan mereka menawarkan membayar senilai tunggakan itu sekitar Rp1,5 miliar. Orang yang telepon saya minta ketemu, saya tidak mau. Kemudian telepon lagi dan mereka ingin kami mengalah," beber RD.

"Waktu itu kami kalah atau menang sudah tak berpengaruh. Tapi alhamdulillah kami menang 4-2, sehingga Shandong Luneng gagal lolos dari fase grup dan digeser oleh FC Seoul."

"Dia (orang yang menawarkan) mengakunya orang Indonesia tapi berteman dengan pihak Shandong Luneng. Saya waktu itu langsung ngobrol sama tim pelatih dan pemain, saya jelaskan untuk jangan sampai kalah, kita fight. Mereka sempat unggul dulu saya kaget dan takut ada anggapan macam-macam. Tapi alhamdulilah kami bisa menang," tuturnya.

RD juga mengaku bahwa ia langsung berkomunikasi dengan manajemen Sriwijaya FC terkait permintaan pengaturan skor tersebut. Mantan pelatih Arema Indonesia itu juga menjelaskan kepada pemainnya bahwa jangan sampai kalah melawan Shandong Luneng.“Shandong Luneng sempat unggul dulu, saya kaget dan takut ada anggapan macam-macam. Tapi alhamdulilah kami bisa menang,” kata RD.

Jangan Takut Bongkar Mafia

DI sisi lain, RD turut angkat bicara soal kasus pengaturan skor yang saat ini kembali mencuat di sepakbola Indonesia. Selaku pelatih yang sudah sangat berpengalaman, RD mengaku kasus itu harus dikupas, dan diusut tuntas. Menurutnya, PSSI selaku federasi harus membuattim khusus untun mencari akar dari permasalah pengaturan skor. RD juga menyarankan supaya PSSI berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Harus dtindaklanjuti, kerja sama dengan pihak berwajib agar kepercayaan masyarakat pulih. Perlu adanya semacam tim khusus untuk mengusut kejadian. Satu jalan teruskan case ini. Saya rasa siapapun tak perlu takut untuk katakan apa yang dia rasakan dan dia alami. Tentukan tezeki sudah ada yang atur. Membantu apa yang kita rasakan kepada federasi, pungkas pelatih 52 tahun itu