BREAKINGNEWS.CO.ID -  Kajian Badan Zakat Nasional  (Baznas) yang dilangsungkan selama dua tahun terhadap penyaluran bantuan kepada para mustahik, terbukti mampu meningkatkan taraf kesejahteraan para penerimanya. Peningkatan tersebut terjadi pada sejumlah bidang yaitu material, spiritual, pendidikan, kesehatan dan kemandirian.

Fakta tersebut diperoleh setelah lembaga ini melakukan kajian Indeks Kesejahteraan  para mustahik untuk mengukur dampak dari penyaluran dana zakat kepada para penerima yang berhak alias para mustahik tersebut.

Hasil kajian yang diberi nama Kajian Indeks Kesejahteraan Baznas yang mengukur keluaran (output) dari  hasil penyaluran dan pendayagunaan Zakat dihubungkan dengan Tingkatkan Kesejahteraan Mustahi disampaikan bersamaan dengan pelaksanaan hari peringatan Hari  Pengentasan Kemiskinan Internasional yang jatuh hari ini 17 Oktober, serta Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober setiap tahunnya.

"Penyaluran bantuan oleh Baznas terbukti mampu meningkatkan taraf kesejahteraan para penerima di di  sejumlah bidang yaitu material, spiritual, pendidikan, kesehatan dan kemandirian," kata Wakil Ketua Baznas, Dr. Zainulbahar Noor saat dalam sambutannya pada Acara Public Exspose "Indeks Kesejahteraan Baznas" yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (17/10/2019)

 

Mantan Direktur Utama Bank Muamalat ini menjelaskan, kesimpulan  kajian panjang yang dilakukan selama dua tahun yang diberi nama Indeks Kesejahteraan BAZNAS itu  terbukti meningkatkan kesejahteraan mustahik pada sejumlah  bidang.

"Kajian dan perumusan ini sangat penting tidak saja untuk mengukur efektifitas pendistribusian zakat yang diamanahkan oleh UU No 23 Tahun 2011 kepada Baznas sebagai Lembaga Negara dengan tugas mengentaskan kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat, tetapi juga untuk menyampaikan ke publik khususnya para muzaki atas hal-hal yang telah dilakukan Baznas atas total zakat yang terkumpulkan".

Turut hadir sebagai narasumber Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr Irfan Syauqi Beik dan Direktur Pusat Kajian Strategis (Puskas) Baznas, Dr Mohammad Hasbi.

Pada sisi lain ukuran ini perlu untuk disampaikan, untuk dapat mengetahui bahwa dengan pendayagunaan zakat, kemiskinan dapat dientaskan.  Namun, upaya tersebut tidaklah sebagai sesuatu yang mudah dan menggambarkan pengentasan kemiskinan secara nasional karena jumlah zakat yang terkumpul  baru mencapai Rp. 8,1 Triliun (akhir 2018) yaitu hanya 2,3% dari potensi zakat 230 juta penduduk muslim Indonesia.

Dalam pada itu kesenjangan antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya di tanah air semakin tajam, dalam ukuran Gini Ratio yang saat ini hanya sedikitdi  bawah angka 4.  Penelitian dari 3 lembaga dunia yang telah dipublikasikan secara luas menunjukkan bahwa 70 persen total asset nasional hanya dikuasai oleh  10 persen  rakyat Indonesia.

 

Di samping itu, pendapatan per kapita rakyat Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dan BRISK hanya berada di atas Laos, Vietnam, Filipina, dan jauh berada di bawah Singapura, Malaysia, Brazilia, Rusia.

"Melalui Indeks Kesejahteraan Baznas dapat diketahui bahwa program penyaluran zakat dalam kategori baik dengan nilai 0,71.  Dari sisi pendapatan, definisi baik ini berarti bahwa para mustahik yang menerima dana zakat telah berada di atas garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah, bahkan sebagian bisa jadi ada di atas nishab, dengan 4.000 sample  mustahik yang mendapatkan pendistribusian dan pendayagunaan zakat melalui BAZNAS dari 140.000 mustahik penerima manfaat zakat" kata Dr. Zainulbahar Noor. Suatu jumlah yang sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan 25 juta (data BPS).

Ia mengatakan, hasil kajian ini menjadi cermin bagi Baznas untuk melakukan analisis kondisi sekaligus mengevaluasi program pendistribusian dan pendayagunaan yang telah dilakukan.

Dengan data tersebut, dapat dirumuskan kebijakan untuk memperbaiki pola program penyaluran zakat selanjutnya, sehingga manfaatnya makin besar dirasakan oleh Mustahik. "Indeks Kesejahteraan Baznas ini dibuat sebagai alat untuk mengukur kinerja program penyaluran zakat yang dilakukan Baznas sekaligus sebagai alat bagi masyarakat untuk memantau bagaimana proses penyaluran zakat selama ini," katanya.

Dari hasil penelitantersebut, diharapkan Pemerintah semakin memberikan perhatian penuh pada pelaksanaan pengumpulan zakat dari seluruh penduduk muslim Indonesia, agar dengan demikian penerima manfaat zakat akan menjadi lebih besar, dan penanggulangan kemiskinan dapat tercapai melalui pendistribusian dan pendayagunaan zakat.  Untuk itu Baznas sangat mengharapkan Presiden dapat dengan segera mengeluarkan Peraturan Presiden tentnag Fasilitasi Pelaksanaan Pembayaran Zakat ASN melalui Kementerian Keuangan RI.  Apabila hal tersebut tercapai BAZNAS akan dapat menampung jumlah pembayaran zakat ASN sejumlah belasan triliun rupiah pertahun.  Lebih  jauh dari itu diharapkan Pemerintah akan juga memberi kemungkinan pada pelaksanaan Amandemen atas UU No. 23 Tahun 2011 Tentang Zakat.

Irfan Syauqi Beik mengatakan, kajian ini menjadi warna baru di dalam pengembangan teori yang terkait dengan ekonomi syariah.  "Ini adalah kontribusi Baznas terhadap dunia keilmuan, utamanya bidang ekonomi syariah. Lembaga berharap kajian ini dapat memperkuat ilmu ekonomi syariah dimana zakat merupakan salah satu bagian pentingnya. Tentu kita juga berharap keilmuan ini terus berkembang melalui teori-teori baru seperti indeks Kesejahteraan ini," katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk turut mengontrol kinerja lembaga melalui kajian-kajian serupa. "Masyarakat termasuk kalangan kampus bisa ikut menguji hasil lapangannya dengan melakukan riset menggunakan alat ukur yang sama yaitu Indeks Kesejahteraan Baznas. Sehingga ini sebagai alat kontrol juga bagi masyarakat dan stakeholder yang lain terkait dengan dinamika pendistribusian dan pendayagunaan zakat," katanya.

Mohammad Hasbi mengatakan, kajian Indeks Kesejahteraan Baznas ini menggunakan tiga ukuran kesejahteraan, yakni Cibest (Center of Islamic Business and Economic Studies) dengan ukuran material dan spiritual. Human Development Indeks dengan ukuran pendidikan dan kesehatan serta kemandirian.

Ukuran Indeks Kesejahteraan Baznas berkisar antara 0 sampai dengan 1 yang terbagi dalam 5 urutan kategori yaitu tidak baik, kurang baik, cukup baik, baik dan sangat baik.