BREAKINGNEWS.CO.ID - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan setelah ajang Asian Games 2018 nantinya Wisma Atlet Kemayoran akan dimanfaatkan untuk warga Jakarta. Di mana pemanfaatan Wisma Atlet saat ini akan digunakan para atlet dari 52 negara peserta Asian Games.

Sandiaga khawatir apabila Wisma Atlet tidak dimanfaatkan setelah Asian Games nantinya fasilitas yang sudah diberikan justru tidak mendapat perawatan khusus hingga pada akhirnya justru rusak. Fasilitas yang ada di Wisma Atlet selama ini telah dianggap internasional dan terbaik lantaran akan digunakan Asian Games.

“Saya lihat kan kondisinya bagus sekali. Itu kalau jadi untuk perumahan harus bicarakan sama teman-teman dari PUPR. Karena kalau dibiarkan saja nanti akan rusak. Seperti banyak fasilitas di DKI kalau enggak dipakai akan rusak,” ujar Sandiaga di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Terkait pemanfaatannya sendiri, secara pribadi Sandiaga masih belum bisa memutuskan apakah akan dijadikan rumah susun sewa (rusunawa) atau rumah susun milik (rusunami) karena harus dikoordinasikan lebih dalam dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR). “Bisa jadi rusunawa, bisa jadi rusunami, nanti kita diskusikan dengan pemerintah pusat dan PUPR. Ini tentunya untuk masyarakat,” kata Sandiaga.

Sekedar informasi, pembangunan Wisma Atlet Kemayoran menghabiskan dana Rp3.8 triliun untuk total 10 tower. Untuk pembelian perabot atau perlengkapan bisa menghabiskan Rp35 juta setiap satu unitnya. Sementara luas setiap unitnya adalah 36 meter persegi dan terdiri dari dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.

Dari sisi fasilitas penunjang, Wisma Atlet dilengkapi mini market, klinik, tempat ibadah, laundry center, balai ruang serba guna, taman kanak-kanak, dan area pertokoan. Selain itu juga terdapat area pedestrian lengkap dengan lampu cantik saat berjalan kaki atau sekedar jogging di malam hari.

Sebelumnya, PT Jakarta Propertindo bertugas sebagai penanggung jawab pembangunan wisma dan lahannya diberikan kepada pemerintah DKI Jakarta dengan skema hibah. Anggarannya bersumber dari penyertaan modal pemerintah daerah. Kementerian Pekerjaan Umum menggunakan lahan seluas 11 hektare untuk diubah menjadi 10 tower yang masing-masing memiliki 34 lantai.