BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, sudah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela serta meminta Inggris untuk menghentikan pemberian akses ke sumber daya emas di Bank of England kepada Nicolas Maduro.

Melalui surat kepada Perdana Menteri Inggris, Theresa May, dan Gubernur Bank of England, Mark Carney, Guaido menuturkan bahwa transaksi itu harus dihentikan karena Maduro kerap menjual emas tersebut dan memasukkan hasil penjualannya ke bank pusat Venezuela. "Saya menulis kepada Anda untuk meminta menghentikan transaksi ilegal. Jika uang itu ditransfer, semua akan digunakan pihak tidak resmi dan rezim kleptokrat Nicolas Maduro untuk menekan dan membuat rakyat Venezuela menjadi brutal," tulis Guaido, yang dikutip Minggu (27/1/2019).

Bank of England dan kantor May belum merespons permintaan komentar dari Reuters. Akan tetapi sebelumnya, bank tersebut selalu menolak permintaan komentar atau pertanyaan mengenai emas Venezuela berdasarkan pertimbangan privasi klien. Maduro sudah berusaha untuk merepatriasi emas Venezuela dari Bank of England dikarenakan khawatir dapat menjadi target sanksi internasional.

Harga emas tersebut melonjak menjadi sekitar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar 18,2 triliun rupiah setelah bank sentral Venezuela menjalin kesepakatan pertukaran emas dengan Deustche Bank. Kehilangan emas tersebut dapat menjadi pukulan besar bagi keuangan Venezuela yang di bawah kepemimpinan Maduro mengalami hiperinflasi hingga 2 juta persen per tahun.

Di tengah keterpurukan ini, Maduro mencoba mempertahankan kekuasaannya sebagai presiden Venezuela hingga dituding melakukan kecurangan dalam pemilihan umum. Setelah dirinya kembali dilantik pada awal Januari 2018 lalu, gelombang unjuk rasa pun mulai terlihat di Venezuela. Puncak amarah rakyat terjadi pada awal pekan lalu, ketika 27 personel tentara Venezuela menyatakan membelot dari Maduro.

Melalui sebuah video, para tentara itu meminta warga memberi dukungan kepada mereka dengan menggelar demonstrasi besar-besaran. Rakyat pun turun ke jalan, didukung oleh oposisi yang direstui oleh Amerika Serikat. Saat demonstrasi semakin memanas, Guaido selaku pemimpin Majelis Nasional, badan parlemen yang dipilih langsung oleh rakyat, memproklamasikan diri sebagai presiden interim Venezuela.

Kepemimpinan Guaido didukung oleh sejumlah negara Barat dan Amerika Latin, mulai dari AS, Kanada, Brasil, Chile, hingga Australia. Akan tetapi, para sekutu dekat Venezuela, seperti Rusia, Turki, dan Cina mendukung kepemimpinan Maduro. Melihat kekacauan ini, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, pun meminta Venezuela menggelar dialog internal untuk menghindari krisis politik lebih jauh.