BREAKINGNEWS.CO.ID - Hingga pertengahan Juli 2019, pemerintah sudah merilis enam SBN ritel. Sejumlah surat utang itu diterbitkan berbentuk Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Tabungan (ST), Sukuk Ritel (SR), dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI).  Produk terbaru pemerintah menerbitkan SBN ritel berbentuk SBR007 dengan target indikatif Rp2 triliun. Sebelumnya, pemerintah juga sudah merilis SBR006 pada awal tahun ini.

Pemerintah percaya diri peningkatan frekuensi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel tahun ini dapat meningkatkan porsi kepemilikan investor domestik di portofolio SBN secara keseluruhan. Pasalnya instrumen itu tak bisa dibeli oleh investor asing, baik individu maupun institusi.

Direktur Surat Utang Negara Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting mengatakan penerbitan SBN ritel hanya dikhususkan bagi investor domestik. Pemerintah menargetkan untuk menerbitkan 10 seri SBN dalam berbagai bentuk.

"Harapan kami posisi domestik lebih banyak dari asing. Dari pemerintah sendiri sudah memberikan ruang yang cukup oke, tinggal daya serapnya saja bagaimana. Tapi dengan frekuensi penerbitan yang lebih sering meskipun perlahan, itu bisa meningkatkan porsi domestik," ungkap Loto, Kamis (11/7). 

Sejauh ini, Loto menyebut kepemilikan investor ritel dalam negeri tak sampai 10 persen. Sementara, porsi asing mencapai 40 persen dari total SBN yang diterbitkan. "Ada satu negara investor ritel bisa sampai 9 persen atau 10 persen. Jadi sebenarnya kami memberikan ruang konsisten 9 persen sampai 10 persen itu bisa saja dalam jangka panjang ke arah situ," kata Loto. 

Untuk tahun depan, Loto belum bisa memastikan apakah penerbitan SBN ritel akan ditambah dari target tahun ini. Hal itu bergantung dari evaluasi yang akan dilakukan pemerintah akhir tahun ini.