BREAKINGNEWS.CO.ID – Direktur keuangan perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar di Cina dan dunia, Huawei, Meng Wanzhou, mengajukan tuntutan hukum kepada pemerintah Kanada atas penangkapannya di Bandara Internasional Vancouver, Kanada tahun lalu.

Meng Wanzhou ditahan pada Desember 2018 lalu atas permintaan Amerika Serikat (AS), yang menuduhnya terlibat penipuan dan melanggar sanksi Washington terhadap Iran. Dikutip dari BBC pada Senin (4/3/2019), otoritas AS berusaha mengekstradisi Meng, akan tetapi belum juga dilakukan tanpa keterangan.

Saat ini, Meng mengajukan tuntutan perdata terhadap pemerintah Kanada, petugas perbatasan, dan polisi setempat atas "pelanggaran serius" terhadap hak-hak sipilnya. Di sisi lain, pemerintah Cina sudah menyatakan protes keras terhadap penahanan Meng, dan menyebut proses ekstradisi sebagai "insiden politik".

Tuntutan hukum tersebut diajukan Meng di Mahkamah Agung provinsi British Columbia pada Jumat (1/3) lalu, yang berisikan upaya meminta ganti rugi terhadap Royal Canadian Mounted Police (RCMP), Badan Layanan Perbatasan Kanada (CBSA), dan pemerintah federal, karena diduga melanggar hak-hak sipilnya. Meng menuturkan bahwa petugas CBSA mencari, menahan, dan menginterogasinya di bandara dengan alasan palsu, sebelum ia ditangkap oleh RCMP.

Petugas menahannya untuk mendapatkan informasi yang mereka "tidak percaya akan diperoleh jika penggugat segera ditangkap", melanggar haknya berdasarkan Piagam Hak dan Kebebasan Kanada. Penahanannya "melanggar hukum" dan "sewenang-wenang", kata gugatan itu, dan petugas "sengaja tidak memberi tahu alasan sebenarnya untuk penahanannya, haknya untuk berkonsultasi, dan haknya untuk diam".

Memicu Ketegangan Diplomatik Tiga Negara

Meng Wanzhou merupakan putri pendiri Huawei, dan penangkapannya tersebut telah meicu ketegangan pada hubungan diplomatik antara Cina, AS dan Kanada. Pihak berwenang AS mengajukan hampir dua lusin tuduhan terhadap Huawei, produsen ponsel pintar terbesar kedua di dunia dan Meng pada Januari lalu, bersama dengan permintaan resmi untuk ekstradisinya.

Cina mengecam tindakan itu sebagai "penyalahgunaan perjanjian ekstradisi bilateral" antara Kanada dan AS, dan telah menyatakan "oposisi tegas" dan "ketidakpuasan yang kuat" terhadap persidangan. Akan tetapi Kanada mengatakan negara itu mengikuti aturan hukum. Sementara itu, dua warga Kanada ditahan di Cina dengan dugaan sebagai pembalasan atas penangkapan Meng Wanzhou.