BREAKINGNEWS.CO.ID – Setelah tinggal beberapa bulan di London, Inggris, Pangeran Arab Saudi, Ahmed bin Abdulaziz al-Saud, dikabarkan pulang ke Arab Saudi. Kepulangan saudara Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini terjadi pada saat keluarga kerajaan masih menjadi sorotan dunia akibat dugaan pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi.

Kepulangan Pangeran Ahmed juga memicu spekulasi kemungkinan Kerajaan Arab Saudi tengah mencari dukungan dari seluruh anggota keluarga, menyusul kritikan keras dan tekanan dari berbagai pihak serta negara terkait kasus Khashoggi, dikutip AFP pada Kamis (1/11/2018). Setidaknya tiga Pangeran Saudi lainnya berkicau di akun Twitter mengenai kepulangan Pangeran Ahmed. Akan tetapi, otoritas Saudi menolak menanggapi alasan Ahmed pulang ke Saudi.

Pangeran berusia sekitar 70 tahunan itu kembali ke istana kerajaan, setelah pada bulan lalu melontarkan kritikan secara tidak langsung soal intervensi Saudi dalam perang sipil di Yaman. Saat itu, paman dari Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman itu meminta kritikus berhenti memprotes keluarga kerajaan atas keterlibatan Saudi dalam perang di Yaman.

"Apa yang harus dilakukan keluarga kerajaan terkait hal ini (intervensi Saudi dalam perang di Yaman)? Sejumlah orang tertentu bertanggung jawab dalam hal ini, (yakni) raja dan putra mahkota," ucap Ahmed dalam sebuah video yang tersebar luas ketika dia berada di London. Pernyataan Ahmed itu cepat menyebar di media sosial. Sebab jarang anggota kerajaan mengkritik kepemimpinan Raja Salman.

Tidak lama setelah pernyataannya itu menjadi bahan pembicaraan, Ahmed berupaya berkelit. Sebelum kasus Khashoggi mencuat, Pangerah Mohammed terus memperkuat kendalinya di kerajaan, terutama setelah dia diangkat sebagai putra mahkota pada 2017 lalu.

Meski mencoba membentuk Saudi menjadi lebih moderat dengan sejumlah kebijakan reformasinya, Mohammed bersikap keras terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Dia tak segan memenjarakan ulama, aktivis, hingga pangeran dan elit bisnis. Namun, di sisi lain, sejumlah pengamat keluarga kerajaan Saudi membantah spekulasi bahwa kedatangan Pangeran Ahmed menimbulkan ancaman bagi posisi Mohammed di kerajaan.

"Ahmed bukan pangeran anti-kerajaan. Dia telah menjadi tokoh sentral dalam (keluarga kerajaan Saudi) selama bertahun-tahun," ucap Michael Stephens, seorang ahli Timur Tengah dari Royal United Service Institute. "Kepulangannya kemungkinan besar adalah berkaitan dengan kapasitasnya sebagai keluarga kerajaan, bukan sebuah plot. Politik Saudi selalu penuh intrik, Raja Salman telah menginvestasikan banyak hal pada diri Mohammed bin Salman sehingga tak mungkin membuat putra mahkota jatuh," ujar Michael.