BREAKINGNEWS.CO.ID -  Sentimen domestik membuat Nilai Tukar rupiah berakhir di posisi Rp  Rp14.034  per dolar AS dari sebelumnya Rp13.955 per dolar pada akhir perdagangan Senin (11/2/2019). Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan turut kena imbas dan ditutup melemah sebesar 26,66 poin atau 0,41 persen menjadi 6.495.

“Laporan akhir pekan lalu yang menyebut transaksi berjalan kita yang defisit menjadi penyebab utama pelemahan rupiah  karena jumlahnya diatas perkiraan,” kata analis pasar uang Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi di Jakarta, Senin (12/2/2019).

“Rilis Jumat lalu itu ternyata lebih besar dari  defisit kuartal ketiga,"

Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV-2018 tercatat 9,1 miliar dolar AS atau 3,57 persen dari PDB.

Secara keseluruhan pada 2018, defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar 2,98 persen dari PDB, meningkat dibandingkan kinerja 2017 yang sebesar 1,6 persen dari PDB.

Padahal, secara bersamaan kondisi pasar uang global juga stabil dimana pergerakan mata uang utama dunia tak ada gejolak berarti. “ Perlambatan ekonomi global masih jadi "concern" pasar setelah pekan lalu bank sentral Australia, Inggris, Eropa, serentak memangkas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka," kata Dini.

Meski demikian, penguatan rupiah masih akan terjadi setidaknya untuk jangka menengah. Peluang kembali ke kisaran angka Rp13.900 hingga Rp14.000 masih bisa terbuka.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi sendiri dibuka melemah Rp13.988 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.985 per dolar AS hingga Rp14.048 per dolar AS.

Seperti juga rupiah, IHSG ditutup melemah sebesar 26,66 poin atau 0,41 persen menjadi 6.495. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 7,13 poin atau 0,69 persen menjadi 1.020,76.

Kondisi itu terjadi karena  pasca rilis data Neraca Pembayaran "Sepertinya ada pengaruh dari data NPI tersebut karena rupiah hari ini juga melemah kembali ke level di atas Rp14.000," ujar Mino, Analis Indopremier Sekuritas Mino.

Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari terkoreksinya beberapa harga komoditas seperti minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), nikel dan batu bara. Kendati demikian, sepekan ini IHSG diperkirakan masih berpotensi berada di tren positif. "Untuk sepekan, prediksi IHSG masih bisa positif," kata Mino.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham investor asing yang  ditunjukkan dengan aksi jual bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp132,9 miliar.