BREAKINGNEWS.CO.ID -  Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank  masih melanjutkan pelemahan di awal pekan. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa (19/11/2019), mengatakan, dari domestik realisasi APBN 2019 per Oktober masih jauh di bawah pagu di mana pendapatan negara sebesar Rp1.508,9 triliun atau 69,7 persen dari pagu dan belanja negara tercatat sebesar Rp1,798 triliun atau 73,1 persen dari pagu.

"Dengan sisa waktu tinggal dua bulan hingga akhir tahun 2019, tampaknya pencapaian hingga akhir tahun maksimal di bawah 85 persen dari pagu. Dengan potensi ini, APBN 2019 tampaknya tidak cukup kuat mendorong ekonomi di Q4-2019 ini," ujar Lana.

Dari eksternal, bank sentral China, People Bank of China (PBoC), secara tak terduga menurunkan short-term funding rate atau yang dikenal sebagai 7-day reverse repo sebesar 0,05 bps menjadi 2,5 persen.

"Penurunan ini merupakan pertama kalinya sejak 2015. Kebijakan moneter ekspansi ini merupakan salah satu stimulus PBoC untuk menambah likuiditas di perbankan China, dan sebagai salah satu upaya mendorong kredit perbankan untuk menahan laju perlambatan ekonomi China," kata Lana.

Pada kuartal III-2019 lalu, ekonomi China tumbuh 6 persen (yoy). Ekonomi China diproyeksikan masih terus melambat, bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan China akan tumbuh 5,8 persen pada 2020.

Lana memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.080 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS.

Pada pukul 10.41 WIB, rupiah masih melemah 9 poin atau 0,06 persen menjadi Rp14.088 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.079 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.091 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.075 per dolar AS.