BREAKINGNEWS.CO.ID-Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengevaluasi pelayanan haji khusus berdasarkan laporan jamaah. Tim menemukan sejumlah hal yang menjadi catatan dan keluhan jamaah untuk ditindaklanjuti.

Kepala Bidang Pengawasan Haji Khusus PPIH Mulyo Widodo telah melakukan survei langsung ke sejumlah apartemen transit haji khusus. “Tim kami mendapatkan penyelenggara haji khusus yang menempatkan jamaah haji di apartemen transit lebih dari lima hari. Ini akan kita proses,” terangnya saat dihubungi pada Kamis (6/9/2018), sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Agama, Jumat (7/9) pagi.

Pemindahan jamaah ke hotel transit seharusnya dilakukan menjelang puncak haji, yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina (Armina). Tapi kenyataannya ada saja penyelenggara haji khusus yang sudah memindahkan jamaahnya dari hotel bintang lima sekitar Masjid al-Haram, seperti Pullman Zamzam, Rottana, Swiss al-Maqam, dan Movenpick.

Keluhan lainnya adalah lift yang terbatas. Jamaah biasanya beramai-ramai memanfaatkan fasilitas tersebut satu jam sebelum kumandang azan. Akibatnya mereka terjebak antrean panjang.

“Kami menemukan pula satu kamar dihuni enam orang, tetapi memang ruangannya besar,” ungkapnya.

Tim juga melihat jamaah menikmati jamuan makan yang berlimpah. Ada nasi mandy dan bukhori khas Arab yang mereka nikmati. Lainnya adalah daging kebab bakar yang wangi dibungkus dengan tortila renyah. Jamaah juga menikmati berbagai buah-buahan yang disediakan.
 
Tim pengawas haji khusus akan menjadikan temuan ini untuk bahan evaluasi lebih lanjut. “Jika ada unsur pelanggaran yang ditemukan, kami akan melakukan klarifikasi dan tindakan, dengan dasar aduan jemaah dan fakta di lapangan,” imbuh Widodo.

Personel pengawas haji khusus menurutnya sangat terbatas, sehingga pengawasan haji khusus minim dilakukan.

Pelaksana Seksi Pengawasan Haji Khusus Daker Mekah Sholihin menjelaskan, pihaknya harus berbagi mobil dengan seksi pelayanan dan kepulangan untuk meninjau jamaah haji khusus.

“Pernah kami survei apartemen transit dari pagi sampai malam hanya dapat empat lokasi,” tandasnya.

Sementara Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Arfi Hatim menjelaskan, beberapa PIHK memilih apartemen transit cenderung dekat dengan Armina ketimbang Masjid al-Haram.

“Penyelenggara ingin mengondisikan jamaah lebih siap menghadapi puncak haji yang berat, serta lebih mudah mengorganisasi mereka untuk berpindah-pindah dari satu masy’ar ke lainnya, misalkan dari pemondokan ke Arafah, lalu ke Muzdalifah, dan Mina ,” ungkap Arfi.

Beberapa penyelenggara haji khusus memberikan pilihan kepada jamaah: jika ingin beribadah di Masjid al-Haram, akan disediakan kendaraan meski tidak selalu tersedia di hotel. Pihaknya juga akan mencermati temuan-temuan tim di lapangan seperti persoalan akomodasi.
 
"Ada beberapa hal yang memang menjadi penyempurnaan standar pelayanan minimal, antara lain kriteria dan masa tinggal di apartemen transit serta jumlah hunian tiap kamar. Kami akan mencermati hal tersebut,” ujar Arfi.