BREAKINGNEWS.CO.ID - Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Agnes Callamard, melakukan kunjungan ke Turki guna menyelidiki kasus kematian wartawan Jamal Khashoggi. Hasil dari kunjungan tersebut dirinya menyimpulkan bahwa pejabat Arab Saudi memiliki rencana serta membunuh Khashoggi.

"Bukti-bukti yang dikumpulkan selama saya bertugas di Turki menunjukkan mendiang Khashoggi merupakan korban dari pembunuhan yang terencana dan brutal, dirancang dan dilakukan oleh pejabat Kerajaan Arab Saudi," kata Agnes di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Jumat (8/2/2019). Khashoggi diyakini dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, pada 20 Oktober 2018 lalu. Saat itu dia hendak mengurus administrasi karena akan menikahi kekasihnya, Hatice Cengiz. Dia diduga dihabisi oleh tim pembunuh yang diterbangkan langsung dari Saudi.

Diduga kuat Khashoggi dibunuh karena kerap mengkritik Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud soal situasi di negara itu. Menurut hasil penyelidikan aparat Turki, Khashoggi diduga dibunuh oleh tim yang terdiri dari 15 orang di Konsulat Saudi. Menurut aparat Turki, Khashoggi dicekik hingga tewas, kemudian tubuhnya dimutilasi dan dihancurkan dengan cairan asam.

Kerajaan Saudi sempat menyangkal peristiwa itu selama dua pekan. Akan tetapi, pada akhirnya mereka mengakui insiden itu terjadi namun dilakukan oleh sekelompok orang di luar perintah dari negara. Sehingga sampai saat ini tubuh Khashoggi tidak pernah ditemukan. "Pembunuhan Jamal Khashoggi dengan kejam membawa tragedi bagi orang-orang yang disayanginya. Hal ini juga berdampak kepada sejumlah hal di dunia, dan harusnya menjadi perhatian PBB," ujar Agnes.

Peristiwa pembunuhan Khashoggi membuat hubungan diplomatik antara Turki dan Arab Saudi memanas. Bahkan, Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dengan yakin menyatakan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, adalah dalang di balik pembunuhan terhadap Khashoggi. Namun, hal itu sudah dibantah oleh kerajaan.