BREAKINGNEWS.CO.ID - Perdagangan akhir pekan Wall Street terkoreksi sangat dalam lantaran adanya tanda-tanda pemelemahan ekonomi global.

Pada penutupan perdagangan Jumat (22/3/2019), Indeks Dow Jones merosot tak kurang dari 450 poin menyusul wall street yang dihadapkan dengan kabar adanya tanda pelambatan pertumbuhan global.

Saham diperdagangkan dengan catatan suram sepanjang sesi. Pada penutupan, Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 460,19 poin atau 1,77 persen, menjadi 25.502,32 poin. Indeks S&P 500 turun 54,17 poin atau 1,90 persen, menjadi 2.800,71 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 196,29 poin atau 2,50 persen, menjadi 7.642,67 poin.

"Ekuitas-ekuitas AS diperdagangkan lebih rendah terutama karena berita buruk tentang pertumbuhan di zona euro. Pasar sering didorong oleh berita dan semua orang berdagang mengikuti cerita," John Monaco, seorang pedagang di Wellington Shields & Co LLC, mengatakan kepada Xinhua, seperti dilkutip dari laman Antaranews..com.

Ekonomi zona euro kehilangan momentum lagi pada Maret, hanya berkembang secara moderat karena produsen-produsen melaporkan penurunan tertajam mereka selama enam tahun, kata penyedia informasi global IHS Markit. 

Indeks PMI manufaktur Jerman menurut IHS Markit Flash tercatat 44,7 pada Maret, turun dari 47,6 pada Februari, angka terendah dalam lebih dari enam setengah tahun.

Di Prancis, indeks manufaktur turun dari 51,5 menjadi 49,8 dan indeks jasa-jasa turun dari 50,2 menjadi 48,7, menurut laporan IHS Markit.

Awal pekan ini, Federal Reserve (Fed) AS juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk 2019.

Ketakutan baru tentang perlambatan pertumbuhan global secara luas dimiliki oleh para pedagang.

Di pasar obligasi, ukuran yang diamati dari kurva imbal hasil surat utang pemerintah sementara terbalik pada Jumat (22/3), menyoroti kekhawatiran bahwa perlambatan global akan berdampak pada ekonomi AS.

Spread atau selisih antara imbal hasil tagihan surat utang tiga-bulan AS dan obligasi 10-tahun AS berubah menjadi negatif, pertama kalinya sejak 2007, menurut data Refinitiv Tradeweb.

Kurva imbal hasil terbalik terjadi ketika suku bunga jangka pendek melampaui mitra jangka panjangnya. Ini dianggap sebagai indikator penting dari resesi yang akan datang dalam waktu dekat, Mark Otto, seorang pedagang Bursa Efek New York yang berpengalaman, mengatakan kepada Xinhua.

Pembalikan kurva imbal hasil dapat menjadi peringatan kemungkinan resesi ekonomi, tetapi itu tidak berarti resesi sudah dekat, Otto menambahkan.

Meskipun dilanda aksi jual tajam pada Jumat (22/3), ekuitas AS masih membukukan keuntungan yang solid untuk tahun ini, dengan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 11,7 persen dan 15,2 persen, sementara Dow naik lebih dari 9,0 persen.