BREAKINGNEWS.CO.ID - Pertemuan tahunan International Monetary Fund - World Bank (IMF - World Bank) menjadi polemik baru di kalangan masyarakat hingga politisi. Kubu calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto mengatakan bahwa acara tersebut merupakan pemborosan. Karena, dana yang disiapkan pemerintah mencapai Rp855,5 miliar. Sebagian kalangan berujar, seharusnya dana sebesar itu dapat difungsikan untuk penanganan daerah terdampak bencana gempa yaitu Sulawesi Tengah.

Namun, Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP DPR RI, Prof Hendrawan Supratikno, mengatakan bahwa pelaksanaan IMF-WB justru bisa bermanfaat bagi Indonesia. Menurut dia, dalam pertemuan tersebut Indonesia justru mendapatkan benefit dari hadirnya peserta pertemuan yang mencapai 34 ribu orang. Hal itu tentunya dapat memberikan efek berganda terhadap ekonomi Bali khususnya.

"Ada 14 ribu orang yang datang. Ada juga investment forum, jadi ini gengsi loh. Itu juga buat kepercayaan pasar yang lebih kolektif terhadap Indonesia," kata Hendrawan saat diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema Miliaran Dana Annual Meeting IMF Darimana? di Komplek Parleman, Senanyan, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Akan tetapi, Hendrawan berharap Akan tetapi, soal revitalisasi peran IMF dan Bank Dunia agar lebih berpihak kepada negara berkembang dan tidak terjadi ketimpangan eknomi, Hendrawan mengatakan bahwa hal itu tidak mudah untuk dilakukan.

"Selagi kedua lembaga itu dikelola secara korporasi maka maka revitalisasi itu akan sulit untuk dilakukan. Selama ini kedua lembaga itu memang lebih banyak menguntungkan para pemegang sahamnya seperti Amerika Serikat dan Eropa," ucapnya.

Hendrawan juga mengomentari kritik yang menyerang Presiden Jokowi. Kritik itu datang dari Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Puyono yang mengatakan bahwa Jokowi menjilat ludah sendiri. Hal itu merujuk pada pidato Jokowi di Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta pada 2015. "Kalau soal pidato Jokowi saat KAA jelas orientasi pemerintah adalah kemandirian ekonomi dan kita harus keluar dari ekonomi kolonial dengan meningkatkan daya saing ekonomi kita yang belum naik signifikan," pungkasnya.