BREAKINGNEWS.CO.ID – Sebagian besar dari ratusan warga Suriah yang mengungsi ke perbatasan Yordania bagian selatan saat ini dilaporkan sudah mulai berbondong-bondong untuk kembali ke kampong halaman mereka pada Minggu (8/7/2018). Kembalinya para pengungsi ke wilayah yang saat ini dikuasai pemerintah itu, terjadi dua hari setelah pasukan Suriah kembali mendapatkan kendali atas perbatasan Naseeb dengan Yordania.

Pada 7 Juli 2018, pasukan Suriah mengangkat bendera nasional di titik persimpangan perbatasan, tiga tahun setelah kalah dari pemberontak. Serangan pemerintah Suriah untuk merebut kembali Provinsi Daraa dari gerilyawan, yang dimulai pada 19 Juni 2018, membuat 330.000 orang kehilangan rumah. Pertempuran di daerah perbatasan berhenti pada 6 Juli 2018, di bawah kesepakatan damai yang dimediasi oleh pemerintah Rusia.

Anders Pedersen, koordinator utama isu kemanusiaan pada PBB di Yordania, menyampaikan kepada wartawan bahwa hanya 150 hingga 200 warga Suriah yang tetap berada di dekat titik penyeberangan penting ke Yordania. Pedersen menambahkan bahwa "sejauh yang kami ketahui mereka secara umum merupakan laki-laki." "Akan tetapi situasi tetap sangat sulit, dan ini menjadi perhatian besar bagi kami," kata Pedersen kepada wartawan, mengulangi seruan untuk penghentian permusuhan agar memungkinkan operasi kemanusiaan dan tercapainya penyelesaian politik terkait krisis Suriah.

Para aktivis oposisi Suriah memberikan laporan penembakan dan serangan udara cukup intens di desa Um al-Mayadeen yang dikuasai pemberontak, beberapa kilometer di sebelah utara perbatasan Naseeb. Meskipun kelompok pemberontak utama di bagian timur provinsi Daraa sudah bersedia menyerahkan senjata, sebagai bagian dari kesepakatan yang dimediasi oleh Rusia, namun beberapa pihak bersumpah untuk melanjutkan pertempuran. Mereka yang kontra ini, sebagian besar berada di bagian barat provinsi Daraa dan wilayah Quneitra di dekatnya, di mana lokasinya tidak jauh dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Seruan Terhadap PBB

Badan bantuan internasional CARE mengatakan kepada The Associated Press pada Minggu, bahwa ribuan pengungsi Suriah telah bertolak kembali dari wilayah perbatasan dengan Yordania. Mereka dikabarkan pulang ke berbagai kota dan desa yang baru-baru ini menandatangani perjanjian rekonsiliasi dengan pemerintah Suriah.

Namun, masih menurut CARE, terdapat cukup banyak warga Suriah yang masih enggan untuk pulang, karena takut terhadap kemungkinan penahanan atau wajib militer. CARE mengatakan bahwa "gelombang orang telah pindah ke Daraa barat" dan Quneitra, ketika pasukan pemerintah menguasai daerah-daerah di tenggara negara itu.

"Mereka sangat membutuhkan makanan, tempat tinggal dan air bersih, yang langka dan sangat mahal karena tingginya permintaan di daerah-daerah padat penduduk," jelas salah seorang juru bicara CARE. Pedersen mengatakan organisasi-organisasi PBB perlu menanggapi populasi di Suriah barat daya, terutama terkait hunian para pengungsi yang kembali dari perbatasan Yordania dan Dataran Tinggi Golan, di mana mereka menyelamatkan diri dari serangan udara dan penembakan dalam beberapa minggu terakhir.