BREAKINGNEWS.CO.ID – Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, Stephane Dujarric menuturkan, Sekjen PBB, Antonio Guterres telah menyerukan penghentian segera operasi militer di Suriah. Guterres sangat khawatir dengan serangan militer di Suriah barat daya dan jatuhnya korban rakyat sipil.

"Memperhatikan bahwa wilayah barat daya Suriah adalah bagian dari perjanjian de-eskalasi antara Yordania, Rusia dan AS, Guterres menyerukan kepada para penjaminnya untuk menegakkan komitmen mereka dan semua pihak untuk menghormati kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia, melindungi warga sipil dan memfasilitasi akses kemanusiaan yang aman, tanpa hambatan dan berkelanjutan,” kata Dujarric dalam sebuah pernyataan, Sabtu (30/6/2018).

"Selain itu, semua pemangku kepentingan harus segera menghentikan serangan yang diarahkan terhadap fasilitas medis dan pendidikan serta menempatkan kondisi keamanan untuk pengiriman lintas batas Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melanjutkan lebih lanjut," tambah pernyataan itu.

"Sekretaris Jenderal mendesak komunitas internasional untuk bersatu guna mengakhiri konflik yang semakin meluas ini, yang berisiko semakin mendestabilkan kawasan dan memperburuk krisis kemanusiaan yang mendalam di Suriah dan negara-negara tetangga," Dujarric mengakhiri.

Guterres juga meminta semua yang terkait untuk fokus pada menggerakkan proses politik ke depan, membangun konsultasi di Jenewa. Turki pada Jumat (29/6) mengutuk serangan rezim Bashar al-Assad terhadap warga sipil di provinsi Suriah barat daya Daraa dan Quneitra.

"Di provinsi barat daya Suriah Daraa dan Quneitra, yang dinyatakan sebagai zona de-eskalasi oleh sebuah memorandum yang ditandatangani di Astana, ratusan orang tak berdosa telah terbunuh dalam serangan rezim Suriah yang menargetkan warga sipil," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan.

"Kami merasa sangat sedih dan prihatin tentang ini. Kami sangat mengutuk serangan tidak manusiawi ini," tambah Aksoy. Ia juga mengatakan serangan rezim Assad itu merongrong upaya Astana dan Jenewa untuk menemukan solusi atas krisis politik dan mengurangi kekerasan di lapangan.

Suriah telah terkunci dalam perang sipil yang ganas sejak 2011 ketika rezim Bashar al-Assad menindak keras aksi protes pro-demokrasi dengan kekejaman yang tak terduga. Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dalam konflik itu, menurut PBB.