BREAKINGNEWS.CO.ID – Pasukan pro pemerintah Yaman berhasil mengalahkan pemberontak Houthi serta berhasil merebut Bandara Hodeidah pada Rabu (20/6/2018). Hal tersebut dinilai sebagai langkah yang besar guna mengambil alih kota Pelabuhan Laut Merah.

"Bandara itu benar-benar bersih, Syukurlah, dan terkendali," kata Komandan Koalisi Abdul Salaam al-Shehi melalui sebuah video yang dipasang oleh kantor berita resmi WAM dari Uni Emirat Arab. Dilansir AFP, pasukan pemerintah berhasil menorobos pagar batas bandara dan memicu pertempuran sengit pada Selasa (19/6) waktu setempat. Setidaknya 33 pemberontak dan 19 tentara tewas akibat pertempuran tersebut.

Pada Rabu lalu, mereka meluncurkan serangan untuk membersihkan Hodeidah dari pejuang pemberontak yang sudah bertahan mulai sejak tahun 2014 lalu. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehingga mengirimkan bantuan penting serta impor makanan melalui dermaga kota. Bandara Hodeidah ini terletak 8 kilometer dari pelabuhan kota, di mana tiga per empat impor Yaman melintas, menyediakan jalur kehidupan bagi 22 juta orang yang bergantung pada bantuan. Bandara ini tidak beroperasi tetapi digunakan sebagai pangkalan pemberontak utama di pedalaman dari jalan pantai ke kota dari selatan.

Utusan dari PBB, Martin Griffiths mengadakan pertemuan selama empat hari di ibukota Sanaa yang dikuasi pemberontak dalam upaya menghindari pertempuran di kota tersebut. Akan tetapi dalam pembicaraan serius itu tidak mengumumkan adanya penyelesaian.

Pihak Uni Emirat Arab serta anggota lain dari koalisi pimpinan Saudi yang turut dalam memberi dukungan pemerintah sejak tahun 2015 telah menuduh musuh bebuyutan regional Iran. Kelompok tersebut menggunakan Hodeida sebagai jalur untuk penyeludupan senjata kepada pemberontak. Namun, Teheran sudah membantah tuduhan tersebut.

PBB pun telah memperingatkan setiap serangan di Pelabuhan Hodeida dapat melumpuhkan pengiriman bantuan kepada 8,4 juta warga Yaman yang akan menghadapi kelaparan. Penduduk Hodeida saat ini sudah bersiap-siap menghadapi pertempuran di jalan yang selama ini menjadi ketakutan mereka. Tank-tank serta bus yang membawa pasukan berseragam memenuhi jalan-jalan kosong di kota yang dulu ramai tersebut.

Dalam pertempuran Hodeidah belum ada laporan adanya korban sipil. Setidaknya 216 pejuang telah tewas dalam satu minggu pertempuran. Pihak PBB menambahkan bahwa ada sekitar 5.200 keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka ketika pasukan pendukung pemerintah Yaman maju ke Pantai Laut Merah. Serangan yang dijuluki Operation Golden Victory merupakan medan pertempuran yang paling intens dan brutal.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan sekutunya melakukan intervensi sejak tahun 2015, setelah Presiden Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke pengasingan dan para pemberontak menyerbu banyak negara. Konflik ini telah menewaskan 10 ribu orang, sebagian mereka dari warga sipil dan jutaan orang mengungsi.

Koalisi dari berbagai negara ini telah memberikan bantuan kepada pasukan pendukung pemerintah untuk mendapatkan kendali atas selatan dan tepi Pantai Laut Merah. Akan tetapi para pemberontak masih mengendalikan di Sanaa dan sebagian besar pada wilayah utara. Sudah beberapa kali PBB berusaha menengahi konflik yang terjadi, namun gagal. Pemerintahan Yaman dan sekutunya telah bersikeras bahwa kaum Huthis harus mundur dari Hodeidah dan menyerahkan pelabuhan ke pengawasan PBB. Sejauh ini pemberontak hanya setuju untuk berbagi kendali pelabuhan dengan PBB.