JAKARTA - Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Uni Eropa, David McAllister memperkirakan bahwa solusi atas polemik kelapa sawit Indonesia bisa rampung pada akhir tahun 2018. McAllister juga menjelaskan bahwa Uni Eropa akan berdiskusi khusus di markas besar UE di Brussels terkait kelanjutan impor komoditas kelapa sawit dari negara-negara pemasok yang masuk ke pasar Benua Biru -- seperti Indonesia, Malaysia, Kolombia, dan lainnya -- yang mengalami hambatan.  “Yang pasti dari diskusi itu,kami  kami ingin sekaligus mempertimbangkan solusi yang menguntungkan bagi masing-masing pihak, termasuk Indonesia," kata McAllister di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam forum yang disebut Formal Trilogue yang melibatkan Dewan Uni Eropa, Parlemen Uni Eropa, dan Komisi Uni Eropa itu, akan dibahas secara khusus  tentnag  impor kelapa sawit itu. "Mengingat ini isu penting, kami belum bisa pastikan kapan solusinya akan selesai. Tapi saya perkirakan, bisa rampung pada akhir tahun 2018," kata McAllister.

Politisi dari Jerman itu tak mengelaborasi lebih detail terkait kelanjutan nasib kelapa sawit usai Formal Trilogue tersebut selesai dilaksanakan nantinya. McAllister hanya mengatakan, "Ini isu penting dan sensitif. Tapi yang pasti, perinciannya sudah kami bahas."

McAllister memahami kekhawatiran dari pemerintah Indonesia tentang nasib kelapa sawit di pasar Eropa. Penghentian impor akan berdampak krusial, mengingat, jutaan masyarakat Tanah Air menggantungkan penghasilan ekonominya dari komoditas tersebut.

Ditambah lagi, Indonesia adalah salah satu negara top dunia untuk urusan produksi kelapa sawit dan cukup mengandalkan ekspor komoditas itu demi menambah pundi-pundi kas negara. "Tapi Indonesia juga harus paham akan kekhawatiran kami seputar kelapa sawit, seperti, isu minimnya kelestarian lingkungan, deforestasi, capaian sustainable goals, dan kualitas dari sawit itu sendiri," kata anggota Parlemen Uni Eropa itu.