BREAKINGNEWS.CO.ID -Beberapa waktu lalu pengamat politik Hanta Yudha pernah mengeluarkan pernyataan bahwa kasus Bank  Century tak akan selesai dalam waktu dekat. Efek bola liarnya masih akan terasa hingga beberapa waktu ke depan, walau sejumlah tersangka sudah divonis dan menjalani hukuman.

Efek yang dimaksud Hanta adalah,  karena para tersangka yang sudah dijatuhi hukuman tersebut belum menyentuh ke ring satu atau yang menjadi mastermind perkara.  Ring satu yang dimaksud adalah pemerintah yang berkuasa, lantaran kasus itu ikut menyeret nama presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pernyataan Hanta yang dikeluarkanya pada tahun 2012 lalu itu seperti mendapat pembenaran dari media  asing Asia Sentinel.

Dalam tulisan yang dirilis Rabu (12/9/2018) media yang bermarkas di Hongkong itu menyebut pemerintahan SBY adalah pemerintahan dengan konspirasi kriminal yang sangat besar.

Sebagai review, kasus pembobolan bank tersebut terjadi pada tahun 2008 saat tim kecil pemerintah menemui presiden SBYmembahas soal arti penting dan urgensi Blanket Guarantee yang mesti diberikan kepada Bank Century. Kemudian perkara berlanjut hingga kemudian meledak belakangan hari dan menyeret sejumlah figur penting.

Atas dasar itulah, editor sekaligus penulisnya John Berthelsen menjelaskan,  Pemerintahan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap sebagai pemerintahan dengan konspirasi kriminal yang sangat besar.

Karena bail out  dana pemerintah atau uang pajak untuk bank itu dicuri dan dicuci melalui bank-bank internasional.

Selang beberapa hari kemudian, mantan Ketua DPR Setya Novanto Setya Novanto angkat bicara. Setnov menyebutkan, jika pihak terkait ingin mencari data lebih lengkap tentang skandal yang merugikan negara sebanyak Rp7,4 T itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Setya Novanto dari penjara Sukamiskin Bandung, tempat dia menjalani vonis hakim  dalam  dalam kasus KTP-el. Di penjara tersebut  Novanto menjalani hukuman bersama sejumlah tahanan lain, termasuk beberapa orang yang terkait kasus Bank Century,

Sebelum pernyataan itu keluar, Menkum dan HAM Yasonna M Laoly kerap menyebutkan, penjara di tanah air rata-rata sudah kelebihan fasilitas, baik untuk tahanan juga untuk petugasnya.

Kekurangan itu kerap berujung ‘kerjasama” antara petugas dan warga binaan. Kerjasama tersebut yang pada akhirnya menimbulkan beragam cerita, khususnya dalam pemanfaatan fasilitas oleh para tahanan yang sudah pasti atas sepengetahuan kepala Lapas.

Sidak pun sudah dilakukan berulang kali, terutama oleh pihak BNN (Badan Narkotika Nasional).  Pengungkapan fasilitas mewah paling fenomenal adalah pada kasus tersangka pengedar narkoba, Freddy Budiman tahun 2015.

Bandar besar jaringan antar negara itu diketahui memiliki kamar mewah layaknya hotel saat mendekam di LP Cipinang. Bahkan, pengakuan dari seorang model sensual ikut menguatkan bahwa, dirinya kerap datang dan “melayani”sang raja bermesraan di ruang milik Ka Lapas, sebelum akhirnya ia menjalani eksekusi mati di LP Nusakambangan.

Pada sisi ini,  Ombudsman yang semestinya bertugas sebagai lembaga yang bertugas mengawal dan mengawasi serta menyelidiki perilaku menyimpang aparat terkesan duduk manis dengan tugas ‘tambahan” lembaga lain tersebut.

Menkum HAM serta lembaga terkait dibawah seperti dibiarkan sendiri memadamkan api alias atau perilaku menyimpang aparat-aparat dibawah. Tak ada langkah “berani” yang terlihat dari komisioner lembaga ini, seperti kasus-kasus pada Fredy Budiman, atau juga terpidana lain, seperti sel laksana salon dan hotel milik tersangka penyuap jaksa untuk kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Artalyta Suryani.

Sekalinya bertugas, Ombudsman seperti mencari panggung paling terang. Tidak seperti tugas utamanya yang bertugas menindaklanjuti laporan masyarakat. Dalam kasus ruang mewah milik Setya Novanto, anggota Ombudsman Ninik Rahayu mengatakan, penyidikan tersebut dilakukan atas inisiatif lembaganya.  Langkah tersebut dilakukan Ombudsman sebagai bagian dari upaya tindak lanjut dari  komitmen pembenahan pihak  dirjen lapas.

Sudah semestinya Ombudsman tak memakai pendekatan berat sebelah dalam hal temuan fasilitas mewah di lapas tersebut, apalagi karena pesan sponsor pihak-pihak tertentu.

Sebab jauh sebelum temuan terhadap fasilitas milil Setya Novanto itu, keluhan terhadap perilaku tak seimbang maupun sudah kerap muncul di permukaan.

Jangan sampai bola liar mega skandal Bank Century yang kembali bergulir karena laman tulisan Asia Sentinel tersebut, menyasar pihak-pihak yang berniat baik untuk membantu pengungkapannya. Karena bagaimanapun juga, sebagai warga negara Setya Novanto tentu ingin tetap dianggap berguna untuk bangsa.