JAKARTA - Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra Muhammad Nuruzzaman menyatakan jika dirinya memutuskan untuk keluar dari Gerindra. Alasannya yakni karena dirinya tidak menerima Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dihina oleh Fadli Zon saat menjadi pembicara di Israel. Sebagai kader NU, Nuruzzaman adalah Ketua Bidang Hubungan dan Kajian Strategis PP GP Ansor.

Terkait dengan hal tersebut, ia merasa jika Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon itu telah melakukan sebuah penghinaan melalui cuitannya di Twitter ihwal kehadiran Yahya sebagai pembicara di forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) terkait konflik Israel-Palestina. "Ya, ini sebagai bentuk respons santri kepada kiainya sebenarnya. Jadi ini santri NU yang merespons ketika ada orang yang menyerang kiainya," ucapnya, Rabu (13/6/2018).

Menurutnya, partai berlambang kepala burung garuda tersebut ikut berkontribusi dalam memproduksi isu SARA sepanjang Pilkada DKI Jakarta berlangsung. Masalah lain, sikap Partai Gerindra yang menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas untuk disahkan menjadi undang-undang.

Ia mengatakan jika sebagai kader NU, sudah saatnya dirinya mendukung Perppu tersebut. Namun, lang yang diambilnya tersebut bertentangan dengan sikap partai. "Oleh sebab itu, saya sudah berpikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontibusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodasi. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas," ujarnya.

Gerindra Bantah

Namun, apa yang telah dituduhkan leh Nuruzzaman tersebut langsung dibantah oleh Partai Gerindra. Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade menyebut jika Fadli tidak menghina Yahya Staquf. "Bang Fadli kan tidak menghina kiai. Yang disampaikan adalah beliau mengkritisi seorang pejabat negara, (anggota) Wantimpres, datang ke suatu negara, penjajah, yang selama ini kita punya kebijakan yang beda," ujar Andre.

Justru Andre menilai jika sikap yang ditunjukkan oleh Nuruzzaman tersebut janggal. Menurutnya, Nuruzzaman seharusnya jika ingin keluar dari partai cukup dengan mengirimkan surat pengunduran diri. Pasalnya, itu merupakan mekanisme pengunduran diri secara resmi, bukan malah mengirim surat terbuka yang kemudian disampaikan ke publik. Ia meminta Nuruzzaman tak menyebarkan hoax bahwa Gerindra memproduksi isu SARA di Pilkada DKI Jakarta.

"Nuruzzaman kalau mau mengundurkan diri kan silakan, itu hak beliau. Tapi tolong jangan menyebarkan hoax. Menuduh Partai Gerindra memainkan isu SARA di pilkada DKI itu kan enggak benar," lanjutnya. Selama Pilkada DKI Jakarta 2017 memang banyak sekali isu-isu SARA yang bermunculan terutama menyerang Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, yang saat Pilgub DKI lalu tidak didukung oleh Gerindra.