BREAKINGNEWS.CO.ID - Atmosfir menuju Kongres Pemilihan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) semakin menghangat. Para bakal calon (balon) anggota Komite Eksekutiv (Exco) PSSI 2019-2024 terus bergerilya untuk menggaet dukungan dari para pemilik suara (voters). Proses penetapan sebanyak 15 Exco PSSI 2019-2024 itu sendiri baru akan dilakukan melalui Kongres Pemilihan yang digelar 2 November 2019 mendatang di Jakarta.

Gerilya kepada para pemilik suara umumnya dilakukan oleh para bakal calon Exco yang memiliki bekal finansial kuat. Sementara, balon Exco yang tidak didukung pendanaan memadai umumnya bersikap pasrah. Kendati demikian, bukan berarti mereka sudah menyerah. Mereka tetap menaruh kepercayaan tinggi kepada para pemilik suara. Setidaknya itu pula harapan Nugraha Besoes, mantan sekjen PSSI.

"Saya percaya pilihan para voters nanti," demikian antara lain disampaikan Nugraha Besoes, Kamis (3/10/2019). Nugraha Besoes, yang menjadi sekjen PSSI dalam beberapa periode kepengurusan, percaya jika para pemilik suara pada Kongres Pemilihan PSSI nanti akan memilih figur-figur Exco yang mampu memajukan persepak bolaan nasional.

Di sisi lain, Nugraha Besoes mengapresiasi majunya Ary Julianta Trijaka sebagai balon Exco PSSI 2019-2024. "Saya kenal Ary," tegasnya. "Kritis, tetapi memang wawasannya luas," jelasnya.

Nugraha Besoes seyogyanya bisa mendampingi Ary saat mengajukan pendaftarannya sebagai balon Exco PSSI 2019-2024 pada Rabu (2/10) sore lalu. Namun dia tak jadi datang karena kesehatannya terganggu.

Ary adalah wartawan olahraga pertama yang mendaftarkan diri sebagai balon anggota Exco. Ary yang juga aktif di kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya berjanji akan berjuang keras untuk membuat kinerja organisasi PSSI lebih baik lagi, khususnya juga bersama-sama berjuang meningkatkan ferforma tim nasional.

Sementara itu, harapan kepada para pemilik suara juga disampaikan oleh Muhammad Zein, mantan pengurus PSSI lainnya. Zein, yang lebih dari 11 tahun mengabdi di PSSI sebagai ketua bidang dan anggota Exco, mengharapkan Kongres Pemilihan mendatang benar-benar menjadi kongres yang bersih dari "money politics".

"Para pemilik suara tidak menjual hak pilihnya hanya untuk kepentingan Pribadi dan tidak bicara kepentingan sepak bola Indonesia. Saya berharap ada rasa malu, memiliki sepak bola di hati para pemilik suara. Mudah-mudahan rasa malu kepada para pencinta sepak bola kita dan negara lain di Asia Tenggara ini pada khususnya dapat menjadi cambuk untuk memperbaiki diri dalam menjalankan hak pilih mereka. Semoga," papar Zein.

Zein juga menyampaikan kritiknya untuk para balon ketum dan waketum. "Semoga mereka memang maju dengan niat untuk memajukan sepak bola, bukan untuk menjadikan sepak bola atau PSSI sebagai kenderaan untuk jabatan politis, tapi benar-benar siap untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu sepak bola kita," jelasnya.

"Cobalah bercermin dulu sebelum maju, melihat diri di kaca dan tanya apa betul saya bisa dan mampu menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan utama saya dalam kehidupan empat tahun ke depan atau tidak? Kalau tidak bisa mengapa saya mencalonkan diri?".

Zein juga menyinggung sejumlah nama balon ketum. Dalam konteks ini, dia mempertanyakan "track record" Mochamad Iriawan, alias Iwan Bule. Di sisi lain, dia menyebut Yesayas Octavianus yang juga wartawan olahraga senior punya komitmen.

"Jejak rekam sepak bola saudara Rahim Soekasah, Sarman El Hakim, La Nyalla Mahmud Mattaliti dan Yesayas Oktavianus rasanya saya sudah sangat hapal. Untuk Arif Wicaksono, hanya sebatas sebagai event organizer (EO) sepak bola. Sedangkan Mochamad Iriawan belum ada rekam jejak beliau di dunia sepak bola yang saya tahu selama saya berada di dunia sepak bola kita sejak tahun 1977," Zein menjabarkan.

"Sebenarnya saya malu bicara bahwa saya pernah sebagai pengurus PSSI. Tetapi, itu adalah sejarah yang tidak bisa saya hapus. Kita selalu gagal menaikkan mutu sepakbola kita karena terlalu banyak kepentingan pribadi atau kelompok didalamnya. Untuk itu saya harapkan para calon ketum yang sudah mendaftar agar benar-benar menjaga komitmennya utk perbaikan sepak bola kita, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok," tegas Zein.