JAKARTA - Selama ini ada anggapan salah yang tetap beredar luas di masyarakat, khususnya kaum perempuan, bahwa menstruasi adalah darah kotor. Darah menstruasi bukanlah darah kotor, melainkan sama dengan darah pada umumnya. Proses menstruasi terjadi karena kerja hormon yang harus seimbang.

Berhentinya menstruasi pada masa menopause, menunjukkan fungsi hormon yang bertanggungjawab untuk proses itu telah berakhir. Jadi pada menopause tidak terjadi penumpukan darah kotor.

Memasuki usia pertengahan, yaitu sekitar usia 40-45 tahun, secara fisik manusia mengalami penurunan. Tapi pada usia itu perempuan belum menopause. Umumnya baru terjadi pada usia 50 tahun. Masa itu acapkali disebut krisis usia pertengahan, baik pada perempuan maupun pria.

Pada usia ini orang merasa secara fisik tidak seperti dulu lagi. Pria sangat khawatir kehilangan kemampuan seksualnya. Banyak yang lantas menguji kemampuan seksualnya dengan perempuan lebih muda. Kalau kontak seksual dengan perempuan lain itu memuaskan, ia menganggap ada yang kurang pada isterinya.

Sekitar 20 persen pria dan perempuan mengalami fenomena seks yang padam pada usia pertengahan. Dalam keadaan ini orang merasakan ketidakberdayaan secara fisik, kehampaan emosi, dan bersikap negatif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas.

Fenomena ini muncul karena kejenuhan dan kejengkelan terhadap aktivitas seksual monoton. Bagi pasangan yang sudah lama menikah, kejemuan memang sering muncul. Menghilangkan monotoni dengan menciptakan suasana baru dan berbeda adalah upaya yang baik untuk mengatasi fenomena seks padam.

Tapi tidak semua orang mengalami krisis usia pertengahan. Bagi sebagaian orang, usia pertengahan merupakan masa kebahagiaan dan kepuasan seksual. Tak sedikit perempuan lebih dapat melakukan aktivitas seksual sesuai kebutuhan dan keinginannya, daripada sekadar memuaskan suami. Pada usia ini perempuan bisa lebih mengambil inisiatif seksual daripada sebelumnya.

Perempuan yang mengalami menopause berarti tidak subur lagi dan tidak dapat hamil lagi. Jadi kesuburannya padam. Tetapi bukan berarti fungsi seksualnya juga padam. Perempuan menopause yang sehat tetap merasakan adanya dorongan seksual, mampu melakukan hubungan seksual, dan mampu mencapai orgasme.

Tetapi tidak sedikit yang mengeluh sakit karena reaksi perlendiran vagina sedikit, dan vagina tetap kering. Keadaan ini wajar terjadi pada masa menopause karena menurunnya hormon estrogen yang menyebabkan epitel vagina menipis, di samping terjadi gangguan pembuluh darah pada dinding vagina.
Di sisi lain, pria yang mengalami andropause mengalami penurunan fungsi seksual. Pria mengalami kelelahan, hilang selera makan, hilang dorongan seksual yang disertai disfungsi ereksi, mudah tersinggung dan terganggu daya konsentrasinya.

Reaksi seksual pria mengalami perubahan sebagai berikut:
1) diperlukan waktu lebih lama dan rangsangan langsung pada penis untuk mencapai ereksi yang cukup,
2) ereksi terjadi dalam keadaan kurang kuat,
3) intensitas ejakulasi menurun, dan volume sperma berkurang,
4) kebutuhan untuk mengalami ejakulasi biasanya berkurang,
5) periode refrakter, yaitu waktu untuk mencapai ereksi dan orgasme berikutnya, menjadi semakin lama.

Hubungan seksual pada masa menopause dan andropause dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kemauan masing-masing. Jadi boleh dan sehat bila dilakukan sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Tetapi kemampuan seksual pada masa menopause dan andropause juga ditentukan oleh ada tidaknya penyakit.

Banyak penyakit yang memperburuk fungsi seksual pada masa menopause dan andropause, misalnya kencing manis dan tekanan darah tinggi. Karena itu berbagai penyakit dan gangguan fisik harus diatasi dengan baik dan benar.

Selain itu, pengalaman seksual sebelumnya sangat menentukan kehidupan seksual perempuan menopause. Bila sebelumnya tak dapat menikmati seks, setelah menopause semakin buruk, bahkan cenderung menolak melakukannya.

Gangguan fungsi seksual yang terjadi pada masa menopause dan andropause dapat diatasi. Rasa sakit pada vagina dapat diatasi dengan pengobatan hormon. Tujuannya supaya perlendiran vagina lebih baik, di samping terjadi perbaikan pada fungsi tubuh yang lain. Kalau hanya untuk mengatasi rasa sakit, gunakan bahan pelicin vagina ketika akan melakukan hubungan seksual. Tentu pelicin vagina bukan menyembuhkan.

Disfungsi ereksi yang kerap dialami pria andropause juga dapat diatasi dengan beberapa cara pengobatan. Demikian juga dorongan seksual yang menurun.
Tapi hambatan yang sebenarnya lebih berat pada masa menopause dan andropause ialah bagaimana pasangan usia lanjut itu tetap dapat mempertahankan ikatan emosional, termasuk ketertarikan seksual pada pasangannya. Kalau ketertarikan ini lenyap, muncullah berbagai gangguan fungsi seksual, dan inilah sebenarnya masalah yang paling sulit diatasi.