BREAKINGNEWS.CO.ID - Kesepakatan damai antarsuporter yang baru-baru ini digadang-gadang nyatanya hanya formalitas belaka. Berjanji dengan menandatangani nota kesepakatan damai di hadapan Menpora Imam Nahrawi tak terbawa ke dalam Stadion. Hanya tertinggal di gedung Kemenpora, Jakarta, saja. Kejadian memilukan kembali terjadi di sepak bola Indonesia. Pada laga derby Jawa Timur antara tuan rumah Arema FC menjamu Persebaya Surabaya. Pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kab. Malang, Sabtu (9/10/2018), terdengar chant-chant atau nyanyian bernada rasis dan bernada ancaman yang bergaung dari tribun stadion saat pertandingan berlangsung.

Di tengah beberapa chant lainnya, masih terdengan chant 'dibunuh saja' yang dinyanyikan beberapa suporter Arema yang hadir ke stadion. Bahkan nyanyian tersebut sampai terdengan dalam siaran yang ditayangkan langsung di stasiun televisi swasta. Bukan hanya itu, hant rasis dengan kata-kata 'jancuk' dan 'anjing' juga masih terdengar dilontarkan kepada suporter rival yang menjadi lawan tim mereka saat ini.

Menagih Janji PSSI

Tragedi tewasnya Haringga Sirilia, suporter Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, (23/9), membuat seluruh unsur sepakbola Indonesia harus berbenah, termasuk PSSI. Federasi yang menaungi sepak bola di Tanah Air itu sempat menyetujui usulan sejumlah unsur suporter yang mengatakan bahwa pertandingan harus dihentikan jika ada nyanyian rasis. "Saya kira semua sepakat, ini ujung dari sebuah upaya bahwa siklus pemberian sanksi terhadap rasis dituggu sampai laga selesai, sering tidak efektif," kata Joko Driyono, wakil ketua umum PSSI.

"Oleh karenanya, implementasi tentang keputusan tersebut perlu dirumuskan dengan cermat oleh Liga [Indonesia Baru, operator], perangkat pertandingan, ada wasit, ada match commissioner, tentu juga pemain di lapangan," sambung pria asal Ngawi itu.

Namun, hal itu tak terbukti, Pertandingan antara Arema FC vs Persebaya tetap berlangsung hingga akhir dan tak jarang diselingi dengan nyanyian rasis. Bahkan, kabarnya, Sekretaris jendral PSSI, Ratu Tisha ada di stadion dan ditemani anggota Exco PSSI, Iwan Budianto yang juga merupakan CEO Arema FC. Sontak kejadian itu menimbulkan sejumlah pertanyaan dari khalayak ramai, termasuk di media sosial. Para netizen mempertanyakan pernyataan PSSI yang menyetujui pertandingan dihentikan jika ada nyanyian rasis. Para netizen pun berduyun-duyun berkomentar di akun instagram resmi Liga 1 yakni @liga1match.

@vikingbarata: "Katanya mau berhenti kalau ada nyayian rasis. . ko masih aja. . komdis sehat?,"

@riifall31:"@pssi__fai tolong di koreksi lagi laga yang satu ini , penonton masuk lapangan , pelemparan botol, nyanyian rasis , bendera persebaya di robek , tolong bertindak adil jngn cuma persib yang di jadikan korbam ketidak adilan !! ingat ada allah yang senantiasa nanti membalas perbuatan kalian,"

@ramdan_nadmarNyanyian: "rasis diberhentikan itu hanya untuk persib kalo yang lain gak berlaku, betulkan wahai baginda @pssi_fai @ponaryo11astaman yang adil dan bijaksana,"

sigitdarmawan_9499: " Awalnya seperti itu, tapi akhirnya.. Wooow....!!!! Udah kayak tarung bebas aja. Nah.. sy yg jadi pertanyaan,, apakah ini hasil dari nota kesepakatan damai yg di lakukan berepara para petinggi & mantan2 pemain berpengalaman yg di beritakan beberapa hari yg lalu. Semoga yg merasa ikut membaca komentar ini. Dan khususnya untuk PSSI mana suaranya..??" Bukannya kemarin para petinggi PSSI ikut hadir di Kanjuruhan..??" Cooobaa.... lembaga tertinggi sepak bola di negeri ini berani tdk mengeluarkan hukuman paling terberat setelah kejadian di Bandung kemarin..??" Jelas2 kejadian di Kanjuruhan adalah mutlak kejadian di dlm lapangan. Dan beranikah pihak PSSI menyalahkan dan atau bahkan memberi hukuman berat untuk Panpel dan jajarannya...??" Kalau PSSI berani dlm menetunkan/memberi hukuman dlm waktu cepat. Kami acungkan jempol 10 jari buat kalian.
.