BREAKINGNEWS.CO.ID - Mantan tokoh Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas mengungkapkan cara-cara merekrut seseorang untuk terlibat dalam aksi terorisme. Adapun, target dari perekrutan itu kata Nasir yakni para generasi-generasi milenial. Labilnya posisi milenial diakuinya akan menjadi daya tarik sendiri dalam upaya memasuki paham-paham radikalisme.

"Kita nggak boleh taati Pancasila karena Pancasila adalah agama baru. Dulu saya dapatnya begitu. Anak-anak diberikan pilihan untuk memilih mana Al-Quran atau Pancasila yang buatan manusia. Pilih Nabi Muhammad atau pilih Jokowi? Pilih mana negara Islam atau negara kafir?," kata Nasir tentang cara mempengaruhi seseorang untuk  bergabung dengan kelompok radikal   dalam sebuah diskusi yang mengusung tema 'Muslim Milenial: Menguatnya Radikalisme dan Tantangan Wawasan Kebangsaan' di kawasan Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jum'at (30/11/2018).

Lebih jauh Nasir menyebutkan." "Apakah Indonesia negara Islam? Jadi jika Indonesia tidak nyatakan negara Islam maka Indonesia adalah negara kafir dan kita harus berjihad untum merubahnya. Kurang lebih begitu bahasanya,"

Dirinya pun mengakui jika saat dirinya berumur sekitar 18 tahun telah diberangkatkan oleh Abu Bakar Baasyir (terpidana kasus aksi terorisme) ke Afghanistan. Dirinya juga mengakui diajarkan menggunakan berbagai senjata.

"Makanya saya berusia 18 tahun sudah diberangkatkan Abu Bakar Baasyir ke Afganistan, disana saya diajarkan berbagai senjata. Dan murid saya banyak seperti Umar Patek, Nurdin M Top dan sebagainya. Tujuannya mendirikan negara Islam di Indonesia," aku Nasir yang juga pakar radikalisme itu.

"Ada kelompok yang mau mendirikan negara Islam dengan Khilafah tanpa angkat senjata itu HTI. Dia itu dusta mau dirikan negara Islam tanpa angkat senjata dan gak ada sejarahnya," sambungnya.

Menurutnya, Rasulullah tidak pernah mewariskan kekuasaan kepada keturunannya. Selain itu, dirinya juga mengatakan jika Rasulullah juga tidak pernah membentuk pemerintahan dinasti. "Jadi kalau mau bilang ikuti Rasulullah tapi Rasulullah tidak mengajarkan itu. Lihat Khilafah Abasiyah itu dinasti," tegasnya.

"Indonesia merdeka atas nama jihad, KH Hasyim Asyari keluarkan dekrit jihad dipegang oleh Bung Karno (Presiden ke-1 RI) dan sebagainya, apa itu tidak disebut jihad. Kenapa Indonesia tidak dijadikan negara Islam? Karena dibangun karena jihad atau karena para ulama tidak menginginkan itu?" ucapnya menceritakan pengalamannya saat ikut terlibat dalam aksi-aksi tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, pengamat radikalisme, Arijani Lasmawati mengungkapkan jika terdapat beberapa faktor generasi milenial yabg terpapar paham radikalisme. Menurut Arijani, sedikitnya ada 6 faktor yang dapat mempengaruhi generasi tersebut.

"Ini sangat berbahaya. Pada dasarnya mereka (generasi milenial) itu sangat rentan. Semua remaja ekstrim cara pemikirannya begitu. Secara hormonal mereka awarness dengan sesuatu di luar keluarganya. Pendek pikir dan fase itu mereka masih mencari jati diri. Dalam kondisi ini pengaruh besar adalah famili," kata Arijani.