BREAKINGNEWS.CO.ID – Seorang pengacara dari salah satu terdakwa kasus pembunuhan saudara tiri pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, Kim Jong-nam, menyampaikan bahwa persidangan lanjutan atas kliennya akan diselenggarakan pada 16 Agustus 2018 mendatang. Goi Soong Seng, pengacara warga negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah, menjelaskan pada persidangan tersebut, hakim akan membacakan putusan terkait nasib proses hukum lanjutan dari kliennya dan satu terdakwa lain yang berasal dari Vietnam, Doan Thi Huong.

"Kemungkinannya ada dua. Pertama, apabila hakim mengambil keputusan prima facie (bahwa bukti yang disajikan di persidangan tidak memenuhi unsur suatu perbuatan tindak pidana yang dituduhkan), Siti Aisyah serta Doan Thi Huong bisa bebas," kata Goi kepada sejumlah wartawan pada Rabu (11/7/2018). "Jika hakim tidak memutuskan prima facie, maka hakim akan melanjutkan proses hukum dan mendengar pembelaan langsung dari kedua terdakwa," tambahnya. Selain itu, jelang persidangan penentu tersebut, Goi meyakini bahwa kliennya, Siti Aisyah, tidak bersalah dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam.

Goi Soong Seng memaparkan, sejumlah bukti yang disajikan oleh aparat dalam persidangan tidak mampu memberi dukungan secara konkret kalau Siti Aisyah melakukan tindakan atau memiliki niat untuk membunuh Kim Jong-nam. "Bukti yang menunjukkan seluruh aktivitas hanyalah rekaman CCTV pada Bandara Internasional Kuala Lumpur. Dan rekaman itu juga tidak dapat membuktikan tuduhan yang menyebut bahwa Siti Aisyah ikut memaparkan racun saraf VX kepada Kim Jong-nam."

"Dalam rekaman CCTV, terlihat bahwa Siti Aisyah tidak melakukan apapun terhadap korban. Ia hanya terlihat berlari dari lokasi kejadian. Dan itu pun tidak membuktikan bahwa Siti Aisyah mengusap cairan yang diduga racun VX terhadap korban," tambahnya. Goi Soong Seng juga bersikukuh jika kedua terdakwa, Siti Aisyah serta Doan Thi Huong hanyalah korban manipulasi dari dalang pembunuhan yang sesungguhnya, empat pria Korea Utara yang saat ini berhasil melarikan diri ke negara asalnya. "Saya dan tim pengacara sangat percaya bahwa ini adalah kasus pembunuhan politik yang melibatkan entitas atau pemerintah Korea Utara," jelas Goi.