BREAKINGNEWS.CO.ID- Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) melihat gerakan narasi kampanye pelaku politik, para pendukung, ormas dan partai pendukung Pilpres 2019 selalu mengarah ke penciptaan konflik. 
 
"Kami lembaga pemilih Indonesia seringkali melakukan observasi, melihat pergerakan dari pelaku politik, ormas ormas, kelompok partai, kelompok pendukung, dan memang narasi kampanye yang dibangun itu semua mengarah pada penciptaan konflik," ujar Boni di Ammarin Restaurant, Plaza Sentral GF, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 47, Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Sabtu (23/2/2019). 
 
Hal tersebut dijawab Boni menanggapi pertanyaan wartawan soal pernyataan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang menyebutkan ada gerakan-gerakan yang bertujuan ingin membuat Pemilu 2019 kacau dan terlihat seperti tidak kredibel di masyarakat.
 
Terkait hal ini Boni mengajak masyarakat supaya jangan mau dimobilisasi untuk kepentingan kekuasan politik selama lima tahun. 
 
"Kami bicara menyadarkan masyarakat jangan mau dimobilisasi dan dipolitisir untuk kepentingan kekuasaan lima tahun. Jangan mau ditipu satu, dua orang yang punya syahwat politik yang tak tertahankan, yang terlalu ingin berkuasa, orang yang terlalu ingin berkuasa pasti punya intensi tidak baik," tegasnya. 
 
Menurut Boni, calon pemimpin yang benar pasti didasari motivasi yang baik, dan menjalankan politik juga dengan damai bukan dengan menabur kebencian. 
 
"Jadi masyarakat harus sadari ini, jangan kita terlena oleh ilusi, oleh narasi seakan akan kita semua yang merasa hidup ini tidak adil harus mendukung si A atau si B. Jangan mau kita yang merasa hidup ini susah harus memilih si A atau si B, karena belum tentu orang yang kita pilih itu bisa membawa perubahan," tegasnya. 
 
"Kaka kita harus melihat siapa dia, siapa calon presiden ini, masa lalunya seperti apa, punya gak pengalaman di dalam membela rakyat, atau jangan mereka yang dulu ini menjual Republik ini, jangan-jangan mereka ini berasal dari keluarga yang menjual seluruh kekayaan Republik dan merampok tanah rakyat misalnya. Jangan-jangan mereka bagian dari penjahat yang sudah memiskinkan Republik ini puluhan tahun. Jadi jangan terlena oleh kampanye satu dua bulan , nasib bangsa ini taruhanya," tegasnya. 
 
Boni menegaskan bahwa faktor narasi kampanye sangat berbahaya dan mempengaruhi terjadinya konflik. Boni pun mendorong semua kandidat dan tim sukses supaya harus lebih bijaksana, lebih sukses, lebih adil dan lebih fair..
 
"Jangan memaksakan masyarakat untuk percaya kebohongan. Jangan memaksakan masyarakat untuk percaya dengan cerita-cerita yang tidak benar. Karena kepemimpinan yang dibangun dengan kebohongan akan melahirkan malapetaka besar," tukasnya.