JAKARTA - Pemerintah layak mendapatkan apresiasi dalam pelaksanaan mudik Lebaran 2018. Dua puncak arus mudik yang berlangsung pada Sabtu (9/6/2018) serta Selasa (12/6/2018) relatif kondusif. Kepadatan sempat berlangsung di dalam ruas Tol Jakarta-Cikampek pada Selasa malam, dari mulai tol dalam kota Jakarta sampai sekitar KM 57 Karawang yang diakibatkan oleh volume kendaraan, tetapi selepas ini jalanan kembali lancar.

Arus lalu lintas yang terjadi pada Selasa malam memanglah telah terprediksi. Hal tersebut karena tak semua pekerja mendapatkan jatah libur yang dimulai sejak awal pekan ini. Selebihnya, tak ada laporan kemacetan panjang dan lama sepanjang hari-hari itu.Pantauan National Traffic Management Center (NTMC) Kepolisian RI (Polri), sepanjang Selasa pagi sampai malam, menunjukkan ruas-ruas jalan di jalur Trans Jawa yang cenderung ramai namun masih tetap lancar.

Keberadaan tol Trans Jawa memberi kontribusi yang cukup besar untuk para pemudik yang memakai angkutan darat. Walaupun ada banyak tol yang memakai sistem fungsional, tetapi hal itu terus membuat perjalanan mudik menjadi lebih cepat dibandingkan tahun lalu.

Sejumlah jalan tol fungsional Trans Jawa yang dapat dilewati tahun ini salah satunya yaitu Tol Brebes Timur-Pemalang (37, 3 kilometer/km), Pemalang-Batang (39, 2 km), Batang-Semarang (75 km), Salatiga-Kartasura (32 km), Solo-Sragen (36 km), serta Wilangan-Kertosono (37 km).

Yeni Suhartoko, seorang warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang mudik menuju Sragen, Jawa Tengah, menyampaikan berhasil menghemat waktu sampai lima jam dibandingkan perjalanan yang sama tahun lalu. "Tahun ini dari Jakarta-Solo hanya 10 jam. Beda dengan tahun 2017, saya tempuh 15 jam," kata Yeni yang mengaku berangkat dari Jakarta usai Subuh itu.

Titik kemacetan yang dialami Yeni terjadi pada pintu keluar Tol Brebes Timur serta Karang Gede Salatiga. Kemacetan ini juga karena antrean keluar tol serta beberapa titik dekat dengan tempat peristirahatan. Kelancaran perjalanan juga dirasakan Abdul Rochim, warga Ngingas Selatan, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, yang tahun ini memilih merayakan Lebaran di rumah putra pertamanya di Jakarta.

Walaupun harus mengeluarkan ongkos lebih banyak untuk membayar tol, Rochim mengaku senang karena perjalanan yang ditempuhnya cuma menghabiskan waktu sekitar 15 jam, atau setara dengan perjalanan dengan kereta api. "Kemarin (11/6/2018), saya berangkat dari rumah jam 6 pagi sampai Jakarta sekitar jam 9 malam. Lebih cepat, tapi tergantung juga dari kecepatan mobilnya," cerita Rochim.

Sampai Selasa siang, jumlah kendaraan yang melintas di gerbang Tol Palimanan (baik keluar dan masuk arah Cirebon atau Jakarta) tercatat sebanyak 31. 938 unit. Jumlah ini naik dibanding Senin (10/6/2018) siang yang mencapai 31. 888 unit atau rerata 3. 068 kendaraan per jam.

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memerinci, akumulasi keseluruhan keberangkatan penumpang untuk seluruh moda angkutan sejak mudik Lebaran 2018 dimulai mencapai 4. 471. 828. Dari jumlah itu, penumpang udara menjadi yang terbanyak yaitu 1. 332. 509 orang, disusul angkutan jalan sebanyak 1. 281. 721 orang. Baru selanjutnya penumpang yang memakai angkutan kereta api sebanyak 903. 535 orang, angkutan penyeberangan sebanyak 665. 777 orang, serta terakhir angkutan laut mencapai 558. 286 orang.

Catatan kecelakaan dan transportasi umum

Tidak hanya arus mudik yang relatif kondusif, jumlah angka kecelakaan lalu lintas juga dilaporkan turun sampai 50 persen. Kasubdit Laka Korlantas Mabes Polri, Kombes Joko Rudi menuturkan, kesimpulan itu nampak setelah petugas kepolisian membandingkan angka kecelakaan yang terjadi sampai H-5 Lebaran pada tahun ini dengan tahun lalu.

Pada 2017, jumlah kecelakaan pada H-5 tercatat mencapai 296 kejadian dengan 90 orang meninggal dunia. Sementara pada periode yang sama tahun ini, angka kecelakaan tercatat sebanyak 163 kejadian dengan jumlah meninggal dunia mencapai 40 jiwa. Luka berat tercatat sebanyak 50 orang pada 2017 serta 42 orang pada 2018. Sedangkan luka ringan pada 2017 mencapai 368 orang dan 213 pada 2018.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Soesatyo sempat menyebutkan, keberhasilan arus mudik serta balik bisa dilihat dari berbagai indikator, satu diantaranya angka kecelakaan. Apabila angka kecelakaan meningkat dari tahun lalu, maka pemerintah serta Polri gagal dalam memberi pelayanan terbaik untuk mudik. "Selain itu, ketersediaan stok BBM juga harus menjadi jaminan untuk masyarakat," sambungnya, Minggu (10/6/2018).

Meskipun demikian, pemerintah terus mempunyai catatan perbaikan untuk mudik tahun ini. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengingatkan, satu diantara indikator terpenting keberhasilan mudik Lebaran yaitu pemanfaatan angkutan umum, bukan kendaraan pribadi. "Ingat, 76 persen laka lantas selama mudik Lebaran selalu melibatkan pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor," ucap Tulus.

Lebih dari itu, Tulus menganggap kelancaran arus mudik tahun ini, khususnya di Pulau Jawa, bukan semata-mata karena penggunaan ruas tol Trans Jawa saja. Melainkan lamanya libur Lebaran yang ditetapkan pemerintah bagi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga memecah konsentrasi puncak mudik Lebaran 2018.