BREAKINGNEWS.CO.ID - Pemerintah Korea Utara (Korut) dan Amerika Serikat (AS) mendapat desakan dari Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in, untuk segera melanjutkan pembicaraan perihal denuklirisasi setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un, pada pekan lalu tidak membuahkan hasil.

"Kami berharap kedua negara akan melanjutkan dialog mereka dan kedua petinggi dapat bertemu lagi dengan cepat untuk mencapai kesepakatan yang tertunda kali ini," kata Moon sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (5/3/2019). Moon juga mendesak para petinggi negara untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan tersebut dan memperkirakan kapan kesepakatan ini akan tercapai.

"Saya percaya perundingan antara AS-Korut akan menghasilkan sebuah kesepakatan pada akhirnya, saya meminta para petinggi untuk bekerja keras guna memulai kembali perundingan tersebut karena tidak menguntungkan jika memiliki kebuntuan dalam sebuah perundingan," katanya. Pertemuan kedua antara Trump dan Kim Jong-un berakhir pada Kamis (28/2) lalu di Hanoi, Vietnam, memang berakhir tanpa dokumen hasil kesepakatan.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan di Hanoi tersebut, Trump membeberkan bahwa AS sebenarnya sudah menyiapkan satu dokumen kesepakatan yang dapat ditandatangani usai konferensi tingkat tinggi dengan Kim. Akan tetapi, Trump memilih untuk tidak meneken dokumen apapun karena tidak mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi.

Trump menyampaikan bahwa Kim ingin AS mencabut sanksi atas Korut. Akan tetapi, Korut hanya menawarkan penutupan sebagian kompleks Yongbyon, situs nuklir terbesar Korut. Sementara itu, Korut diyakini memiliki situs pengembangan uranium lainnya. Korea Utara menolak klaim tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya hanya menginginkan konflik ini mereda. Mereka menjelaskan bahwa usulan untuk menutup semua fasilitas produksi di Yongbyon adalah tawaran terakhir yang terbaik.

"Saya meminta agar kita dapat menemukan celah antara kedua belah pihak yang menyebabkan kesepakatan itu gagal dan mencari cara untuk mempersempit celah tersebut," kata Moon. Dibuka pada 1986, Yongbyon merupakan tempat reaktor nuklir pertama Korut berdiri. Dengan kapasitas lima megawatt, reaktor itu menjadi satu-satunya sumber plutonium untuk program senjata Korut.

Di dalam kompleks tersebut, Korut juga memproduksi sejumlah bahan kunci untuk bom nuklir, seperti uranium yang sudah melalui proses pengayaan tinggi dan trititum. Namun, Korut diyakini masih memiliki sejumlah situs pengayaan uranium lainnya yang masih aktif beroperasi memproduksi bahan untuk senjata nuklir.

Sejumlah pengamat pun menganggap penutupan Yongbyon bukan simbol keberhasilan perundingan denuklirisasi. Meskipun demikian, Moon mengatakan bahwa program denuklirisasi berhasil apabila Yongbyon dihentikan secara keseluruhan karena situs tersebut merupakan fasilitas dasar dari pembuatan nuklir Korut.