BREAKINGNEWS.CO.ID – Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in, dikabarkan sangat merasa optimistis pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un, serta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, akan bertemu kembali sebelum pergantian tahun 2018 ini.

Menurut Duta Besar Korsel untuk Indonesia, Kim Chang-beom, penguatan hubungan antara AS-Korut ini juga terbuka setelah Moon melakukan lawatan selama tiga hari ke Pyongyang mulai sejak Selasa (17/9/2018) lalu . Setelah bertemu Kim Jong-un, Moon akan bertemu secara bilateral dengan Trump di sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York akhir bulan ini untuk membicarakan langkah lebih lanjut terkait denuklirisasi di Semenanjung Korea.

"Dan mudah-mudahan, dalam pertemuan keduanya akan dibicarakan realisasi pertemuan tinggi kedua antara Presiden Trump serta Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un dalam tahun ini karena itu yang benar-benar kami harapkan," kata Kim Chang-beom kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/9). "Itu yang benar-benar dikatakan Presiden Moon setelah kembali ke Seoul Kamis (20/9) sore, bahwa mungkin kita akan melihat pertemuan puncak lainnya antara Presiden Trump serta Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un dalam waktu dekat."

Kim Chang-beom menuturkan perdamaian di Semenanjung Korea tidak bisa lepas dari perkembangan relasi antara Washington dan Pyongyang. Apabila hubungan Korut-AS masih dipertanyakan, dia menganggap perdamaian antara Seoul serta Pyongyang akan sulit dicapai. Selama ini, Korsel memang dianggap sebagai jembatan antara AS serta Korut, apalagi setelah pertemuan pertama Moon-Kim Jong-un pada April lalu yang turut membuka jalan pertemuan antara Trump serta Kim Jong-un di Singapura dua bulan setelahnya.

Kim Chang-beom menuturkan Seoul akan terus berupaya menjadi jembatan antara Washington serta Pyongyang untuk memajukan proses denuklirisasi. Dengan perbaikan hubungan tersebut, Seoul juga berharap perjanjian damai antara Korut serta Korsel untuk mengakhiri Perang Korea 1950-1953 lalu yang secara teknis masih berlangsung juga dapat terwujud.

"Tanpa progres substantif dalam hubungan bilateral AS-Korut, kami tidak akan bisa mencapai kesepakatan damai yang telah disetujui," kata Kim Chang-beom. Dalam KTT inter-Korea ketiga, Moon dan Kim Jong-un sepakat mempererat kerja sama ekonomi dan pembangunan antara kedua Korea, termasuk menghubungkan jalur kereta api, jalan, dan program pariwisata antara Korut-Korsel.

Meski begitu, Korsel tetap sadar bahwa Korut masih menjadi subjek serangkaian sanksi internasional, termasuk dari PBB. Karena itu, serangkaian proyek bersama tersebut baru bisa benar-benar dijalankan ketika sanksi terhadap Korut dicabut. "Dan itu membutuhkan persetujan dari PBB dan sejumlah negara besar lainnya. Karena itu, meski kedua negara telah menyepakati sejumlah proyek bersama, (proyek-proyek itu) dilaksanakan dengan sejumlah syarat," katanya.