BREAKINGNEWS.CO.ID-Amerika Serikat sudah berulangkali memberikan sanksi untuk Iran, sebagai konsekuensi atas kebandelan negeri ayatullah itu terus mengembangkan program nuklir dan rudal. Namun, rezim Iran tak pernah memperlihatkan kekhawatiran apalagi ketakutannya. Juga menyambut sanksi yang diterapkan Donald Trump sekarang ini. Padahal sanksi yang dijatuhkan AS kali ini swecara spesifik ditargetkan kepada sektor minyak dan finansial, yang bisa meningkatkan tekanan bagi Iran di tengah upaya menghentikan pengembangan program nuklir dan rudalnya.

Sebelumnya, ribuan masyarakat Iran berunjuk rasa sepanjang Senin (5/11/2018), dalam peringatan gerakan Revolusi Islam 1979 dan penjatuhan kembali sanksi AS terkait sektor minyak kepada negara mereka.

Komandan militer Iran, Mayor Jenderal Mohamad Ali Jafari, memperingatkan Trump bahwa Iran siap berhadapan dengan AS yang menerapkan kebijakan melampaui batas.

"Saya ingin menegaskan kepada AS dan presidennya yang aneh, jangan pernah mengancam Iran. Karena kami masih bisa mendengar suara jeritan tentara anda yang terkubur di gurun. Anda semestinya tahu, berapa banyak tentara AS yang bunuh diri setiap hari akibat depresi dan ketakutan di medan perang," cetus Jafari.

"Jadi jangan berani mengancam Iran secara militer. Tidak perlu menakut-nakuti kami dengan ancaman seperti itu," imbuhnya.

Dalam setahun terakhir, Teheran menuduh Trump melancarkan genderang perang ekonomi yang bertujuan menghancurkan ekonomi domestik.

Melalui pidatonya, Jafari menyatakan keyakinannya mengenai motif serangan kebijakan Trump terhadap ekonomi AS. Tidak lain ialah bentuk keputusasaan AS yang belum mampu mengalahkan negeri penghasil minyak tersebut.

Akan tetapi, optimisme yang disuarakan Jafari bagaimanapun kontras dengan kondisi ekonomi Iran yang kian memburuk. Tecermin dari pelemahan nilai tukar rial terhadap dolar AS, goyangnya tim ekonomi pemerintahan Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyusul penghentian beberapa menteri senior. Berikut, meluasnya protes masyarakat terhadap tingginya inflasi dan situasi ekonomi yang kacau.

Mengacu data Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), nilai ekspor minyak Iran mencapai US$52,72 miliar pada 2017. Adapun volume ekspor minyak mentah pada periode serupa tercatat 2.125 ribu barel per hari (bph), dengan volume ekspor gas mencapai 12,9 miliar meter kubik.

Namun, realisasi produksi maupun penjualan migas Iran pada tahun ini cenderung menurun. Sektor energi mempunyai sumbangsih hingga 80% pada penerimaan negara, khususnya dari kinerja ekspor. Dengan begitu, sanksi AS terhadap sektor energi Iran, jelas berdampak negatif pada pendapatan negara serta kesejahteraan masyarakat.