BREAKINGNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo dilaporkan akan kembali berkunjung ke Korea Utara untuk mendiskusikan kembali rencana pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, melucuti senjata nuklir negaranya.

Mengutip empat sumber, Financial Times, Jumat (29/6/2018) memberikan laporan bahwa Pompeo terpaksa membatalkan rencananya untuk bertemu dengan Menlu India di Washington pada 6 Juli 2018 mendatang dikarenakan harus bertolak ke Pyongyang. Dilansir Reuters, pejabat Kementerian Luar Negeri AS menolak mengonfirmasi laporan Financial Times tersebut. Mereka juga menyatakan tidak ada jadwal kunjungan Pompeo dalam waktu dekat yang dapat dipublikasikan seperti biasanya.

Akan tetapi, pekan lalu mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) itu menuturkan akan kembali berkunjung ke Korut dalam waktu dekat "sebelum terlalu lama" guna menyempurnakan komitmen yang dibuat Trump dan Kim Jong-un di Pulau Sentosa. Di depan Senat, Rabu (28/6), Pompeo juga meyakini bahwa rezim Kim Jong-un mengerti keinginan AS secara menyeluruh terkait perlucutan senjata nuklir sepenuhnya seperti yang dinegosiasikan kedua pemimpin sebelumnya.

"Kami sudah cukup jelas dalam percakapan kami tentang apa yang kami maksud dan inginkan ketika berbicara tentang denuklirisasi secara menyeluruh," kata Pompeo dalam sidang subkomite Senat. Apabila benar, lawatan Pompeo ke Korut kali ini merupakan yang perdana setelah Presiden Donald Trump bertemu dengan Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juli 2018 lalu. Sejauh ini, Pompeo telah dua kali berkunjung ke Korut. Lawatan pertama dilakukan sekitar April 2018 lalu saat dirinya masih menjabat sebagai Direktur CIA. Kunjungan itu dilakukan untuk mempersiapkan pertemuan bersejarah Trump dan Kim Jong-un di Singapura.

Kunjungan kedua dilakukan Pompeo pada Mei lalu guna mengurus pembebasan tiga warga AS yang masih ditahan Korut. Meskipun mencetak sejarah dikarenakan menjadi presiden AS pertama yang bertemu dengan pemimpin Korut, Trump tetap mendapatkan kritikan setelah bertemu dengan Kim Jong-un. Sejumlah analis menganggap pertemuan Trump gagal dikarenakan tidak menghasilkan perjanjian denuklirisasi yang konkret dan terperinci. AS juga tidak memberikan tenggat waktu yang jelas demi memastikan Korut melakukan proses perlucutan senjata nuklir.

Jauh sebelum pertemuan di Singapura berlangsung, Trump dan Kim Jong-un kerap saling hina dan melontarkan ancaman perang. Puncak ketegangan kedua negara terjadi sepanjang 2017 lalu, ketika Korut terus menguji coba senjata rudal dan nuklirnya. Namun, sehari setelah bertemu Kim Jong-un, pandangan Trump terhadap pemimpin negara terisolasi itu berubah 180 derajat. Melalui Twitter, Trump menyebut sudah tidak ada lagi ancaman nuklir Korea Utara.